30 HARI JADI PACAR

Ahmad Barnash
Chapter #15

Aturan #10 — Jangan Menganggap Diam Berarti Baik-Baik Saja

Senin pagi.

Seminggu menjelang Festival Literasi.

Seluruh SMA Garuda Mandala berubah menjadi lautan kesibukan.

Spanduk mulai dipasang.

Stand pameran sedang dirakit.

Panitia hilir-mudik membawa kardus berisi buku dan perlengkapan dekorasi.

Sebagai Ketua OSIS, Kayla hampir tidak punya waktu untuk duduk.

"Banner aula sudah?"

"Sudah."

"Undangan alumni?"

"Sudah dikirim."

"Sound system?"

"Sedang dites."

"Stand sponsor?"

"Masih proses."

Kayla memberi tanda centang satu per satu di tablet yang dibawanya.

Nabila menghampiri sambil membawa dua gelas air mineral.

"Nih."

"Makasih."

"Kamu dari tadi belum berhenti."

"Aku masih banyak kerjaan."

Nabila menatap sahabatnya beberapa saat.

"Kapan terakhir kamu duduk?"

Kayla berpikir.

"...Tadi."

"Jam berapa?"

"...Mungkin."

Ia melihat jam tangannya.

"...dua jam lalu."

Nabila menghela napas.

"Kay..."

"Kenapa?"

"Jangan cuma Raka yang diomelin soal istirahat."


Di sisi lain sekolah.

Lapangan basket juga tidak kalah sibuk.

Turnamen persahabatan antarsekolah akan berlangsung bersamaan dengan Festival Literasi.

Coach membagikan jadwal latihan tambahan.

"Mulai minggu ini."

"Latihan sampai jam enam sore."

Dion langsung memegang dada.

"Coach..."

"Kami masih pelajar."

"Makanya latihan."

"Kalau sudah jadi pemain NBA baru boleh protes."

Satu tim tertawa.

Raka menerima jadwal latihan itu.

Lalu membuka planner kecil yang kini selalu ia bawa.

Kebiasaan baru.

Ia mulai menulis.

Selasa

Latihan.

Rabu

PRISMA.

Kamis

Video kelompok.

Jumat

Persiapan festival.

Dion melirik.

"Wih."

"Lo sekarang punya planner."

"Iya."

"Ketularan?"

Raka tersenyum.

"Sedikit."


Siang hari.

Kelompok tugas kembali berkumpul di ruang multimedia.

Hari ini mereka mulai menyusun hasil wawancara.

Siska sibuk mengedit video.

Nabila memilih musik latar.

Raka menyusun urutan gambar.

Sementara Kayla...

Sedang membuka tiga laptop sekaligus.

Laptop OSIS.

Laptop tugas.

Laptop PRISMA.

Raka beberapa kali melirik.

"Kay."

"Hm?"

"Kamu makan siang?"

"Nanti."

"Jam berapa?"

"Nanti."

"Kamu bilang nanti dari tadi."

"Aku masih selesaiin proposal."

Raka tidak membalas.

Ia hanya mengangguk pelan.


Satu jam kemudian.

Diskusi selesai.

Semua mulai membereskan barang.

Kayla masih duduk.

Jarinya terus mengetik.

"Kay."

Suara Nabila terdengar pelan.

"Hm?"

"Pulang?"

"Nanti."

"Kamu lagi."

"Aku sebentar."

Nabila hendak berkata sesuatu.

Namun Raka lebih dulu menggeleng pelan.

"Biar."

Mereka bertiga keluar ruangan.

Tinggal Kayla sendirian.


Koridor sekolah.

Dion baru saja menghampiri Raka.

"Rak."

"Hm?"

"Lo nggak nunggu?"

"Nunggu apa?"

"Ketua OSIS."

Raka melirik ke arah ruang multimedia.

Pintu masih tertutup.

"Dia lagi banyak kerjaan."

"Iya."

"Terus?"

"Ya udah."

Dion menyipitkan mata.

"Lo yakin dia baik-baik aja?"

Raka terdiam.

Ia teringat sesuatu.

Hari Sabtu kemarin...

Kayla langsung sadar hanya dari kebiasaan kecilnya memijat bahu.

Sementara dirinya...

Baru menyadari Kayla belum makan setelah hampir dua jam bersama.

Ia memandang kembali ke arah ruang multimedia.

Pintu itu masih tertutup.

Masih sunyi.

Entah kenapa...

Keheningan itu terasa berbeda.


Lihat selengkapnya