Festival Literasi tinggal tiga hari lagi.
Suasana SMA Garuda Mandala berubah menjadi lebih sibuk dari biasanya.
Aula dipenuhi panitia.
Lapangan basket dipasang spanduk turnamen.
Perpustakaan mulai menata stan penerbit lokal.
Koridor sekolah dipenuhi siswa yang membawa kardus, banner, kabel, dan perlengkapan dekorasi.
Di tengah semua kesibukan itu...
Kayla berdiri sambil memegang clipboard.
"Stan B dipindah ke sebelah kanan."
"Karena jalur evakuasi harus tetap kosong."
"Banner sponsor dinaikkan lima belas sentimeter."
"Supaya tidak menutupi logo sekolah."
"Meja registrasi tambah satu."
Semua instruksi keluar cepat.
Jelas.
Teratur.
Tidak ada yang perlu diulang dua kali.
Nabila memperhatikan dari jauh.
"Kalau ada Olimpiade Ngatur Orang..."
"...Kayla pasti juara dunia."
Siska tertawa kecil.
Di sisi lain sekolah...
Coach basket juga sedang membagi strategi.
"Raka."
"Iya, Coach."
"Besok kamu kapten."
Raka membelalakkan mata.
"Aku?"
"Iya."
"Kenapa bukan Kak Arif?"
"Dia cedera."
"Tapi..."
Coach menepuk bahunya.
"Kapten bukan yang paling hebat."
"Kapten adalah yang bisa bikin tim tetap jalan."
Raka mengangguk pelan.
Kalimat itu terus teringat sampai latihan selesai.
Sore hari.
Kelompok tugas kembali berkumpul di ruang multimedia.
Video mereka hampir selesai.
Tinggal satu bagian.
Narasi penutup.
Siska membuka laptop.
"Aku sudah bikin dua versi."
"Silakan dipilih."
Versi pertama muncul.
Narasinya formal.
Penuh istilah psikologi.
Kayla mengangguk.
"Bagus."
"Jelas."
Lalu versi kedua.
Bahasanya lebih sederhana.
Lebih hangat.
Lebih mudah dipahami.
"Itu versiku."
kata Raka.
Ruangan kembali sunyi.
Nabila langsung meneguk air mineral.
"Waduh..."
Kayla membaca kedua naskah bergantian.
"Menurutku..."
katanya.
"...versi pertama lebih sesuai penilaian."
Raka mengangguk.
"Masuk akal."
"Tapi?"
"Terlalu seperti makalah."
"Kalau orang tua yang datang ke festival..."
"...belum tentu nyaman mendengarnya."
Siska mengangguk pelan.
"Aku juga kepikiran begitu."
Kayla membuka rubrik penilaian.
"Di sini tertulis..."
"...kedalaman analisis."
"Berarti istilah ilmiah tetap penting."
Raka menggeleng pelan.
"Menurutku..."
"...yang penting orang ngerti."
"Kalau bahasanya terlalu rumit..."
"...pesannya bisa hilang."
Untuk pertama kalinya...
Pendapat mereka sama-sama kuat.
Dan sama-sama memiliki alasan.
"Nah."
Nabila berdiri.
"Aku punya ide."
Semua menoleh.
"Gimana kalau digabung?"
Kayla menggeleng.
"Takut kepanjangan."
Raka juga menggeleng.
"Takut jadi nanggung."
Nabila kembali duduk.
"Ya udah."
"Aku menyerah."
Suasana mulai sedikit tegang.
Bukan karena marah.
Melainkan karena keduanya sama-sama ingin memberikan hasil terbaik.
Siska melihat jam.
"Kalau begini..."
"...kita nggak selesai-selesai."
Raka menarik napas panjang.
"Oke."
"Kay."
"Hm?"
"Boleh aku tanya?"
"Tanya."
"Tujuan video ini apa?"
Kayla menjawab tanpa ragu.
"Menyampaikan hasil penelitian."
"Ke siapa?"
"Pengunjung festival."
"Kalau pengunjungnya nggak ngerti..."
"...apakah tujuan kita tercapai?"
Kayla terdiam.
Pertanyaan itu...
Tidak mudah dijawab.