Sabtu pagi.
Hari yang telah dipersiapkan selama hampir satu bulan akhirnya tiba.
Festival Literasi SMA Garuda Mandala resmi dibuka.
Sejak pukul tujuh pagi, halaman sekolah sudah dipenuhi siswa, orang tua, alumni, mahasiswa, dan tamu undangan.
Spanduk warna-warni membentang di sepanjang koridor.
Stan buku berjajar di sisi aula.
Di lapangan basket, panitia sibuk menyiapkan pertandingan persahabatan antarsekolah.
Suasana sekolah terasa hidup.
Dan di tengah semua kesibukan itu...
Kayla belum sempat duduk satu kali pun.
"Stand penerbit sudah siap?"
"Sudah."
"Listrik panggung?"
"Aman."
"MC?"
"Lagi gladi."
"Tim dokumentasi?"
"Sudah keliling."
Nabila berjalan di belakang Kayla sambil membawa clipboard cadangan.
"Kay."
"Hm?"
"Kamu tahu nggak?"
"Apa?"
"Kalau orang lihat kamu sekarang..."
"...mereka bakal ngira kamu kepala sekolah."
Kayla menoleh datar.
"Berlebihan."
"Nggak."
"Sumpah."
"Barusan ada orang tua murid nanya lokasi parkir ke kamu."
Siska yang ikut mendengar langsung tertawa.
"Terus?"
"Aku kasih tahu."
jawab Kayla polos.
"Itu dia masalahnya!"
Nabila memegang dahinya.
"Kamu jawab lagi!"
Di sisi lain sekolah...
Turnamen basket baru saja dimulai.
Suara peluit menggema di lapangan.
"Kapten!"
teriak Coach.
"Fokus!"
"Iya, Coach!"
Raka menarik napas panjang.
Ini pertama kalinya ia menjadi kapten tim dalam pertandingan resmi.
Di pinggir lapangan, Dion mendekat.
"Rak."
"Hm?"
"Gugup?"
"Sedikit."
Dion tersenyum.
"Tenang."
"Kalau kalah..."
"...bilang aja bagian dari penelitian."
Raka langsung tertawa.
"Penelitian apa?"
"'Pengaruh kekalahan terhadap kesehatan mental remaja.'"
"Kamu ini..."
Pukul sebelas siang.
Video hasil proyek lintas jurusan akhirnya diputar di aula utama.
Puluhan siswa memenuhi kursi.
Guru-guru duduk di barisan depan.
Dr. Maya dan tim PRISMA juga hadir sebagai tamu undangan.
Video dimulai.
Gambar pertama.
Cahaya sore di taman kota.
Lalu suara narasi Raka.
"Hubungan yang sehat bukan dimulai dari mencari seseorang yang sempurna..."
"...tetapi dari belajar memahami orang yang ada di depan kita."
Ruangan mendadak sunyi.
Narasi mengalir lembut.
Diselingi hasil wawancara dan cuplikan kegiatan PRISMA.
Kayla memperhatikan dari samping panggung.
Sesekali ia melirik reaksi penonton.
Beberapa guru tampak mengangguk.
Ada orang tua yang tersenyum.
Bahkan beberapa siswa terlihat benar-benar memperhatikan.
Ketika video selesai...
Tepuk tangan memenuhi aula.
Raka mengembuskan napas lega.
"Kita berhasil."
bisiknya.
Kayla mengangguk pelan.
"Iya."
Namun...
Tidak semua orang bereaksi sama.
Di belakang aula.
Beberapa siswa sedang membicarakan video itu.
"Eh."
"Keren ya."
"Iya."
"Tapi..."
"...bukannya itu Raka sama Kayla?"
"Iya."
"Mereka kan pasangan PRISMA."
"Menurut lo..."
"...mereka beneran pacaran nggak?"
Seorang siswa lain ikut mendekat.
"Gue sih yakin."
"Mana mungkin sedekat itu kalau cuma penelitian."
"Setuju."
"Kelihatan banget."
Percakapan itu terus menyebar.
Dari satu kelompok.
Ke kelompok lain.
Layaknya riak kecil yang perlahan menjadi ombak.
Sementara itu...
Kayla sedang membantu guru tamu di ruang konsumsi.
Ia sama sekali tidak mengetahui gosip yang mulai berkembang.
Berbeda dengan Raka.
Saat berjalan menuju kantin, ia sempat mendengar dua siswa kelas sepuluh berbisik.
"Itu dia."
"Si cowoknya."
"Yang video tadi."
"Ih."
"Cocok sih mereka."
Raka hanya tersenyum tipis.
Ia mengira...
Itu hanya candaan biasa.
Namun ketika masuk ke kantin...
Beberapa pasang mata kembali menoleh.
Beberapa siswa tersenyum jahil.
Bahkan ada yang berbisik sambil tertawa kecil.
Raka mulai merasa ada yang berbeda.
Tak lama kemudian...
Dion datang membawa dua gelas es teh.
"Nih."
"Makasih."
Dion duduk di depannya.
"Lagi rame."
"Hm?"