30 HARI JADI PACAR

Ahmad Barnash
Chapter #18

Aturan #13 — Jangan Membiarkan Orang Ketiga Mengatur Hubungan Kalian

Senin pagi.

Festival Literasi telah selesai.

Namun efeknya...

Belum benar-benar berakhir.

Koridor SMA Garuda Mandala kembali dipenuhi aktivitas belajar.

Tetapi kini ada sesuatu yang berbeda.

Setiap kali Kayla dan Raka kebetulan berpapasan...

Selalu ada saja yang melirik.

Atau tersenyum jahil.

Atau berbisik pelan.

Bukan terang-terangan.

Tetapi cukup sering untuk disadari.


Pak Ujang yang sedang menyapu daun di dekat gerbang memperhatikan keduanya lewat.

Ia menggeleng pelan sambil tersenyum sendiri.

"Kasihan."

gumamnya.

Petugas kebersihan menoleh.

"Siapa?"

"Yang digosipin."

"Kasihan kenapa?"

Pak Ujang menyandarkan sapunya.

"Anak-anak sekarang..."

"Kalau lihat cowok sama cewek akur dikit..."

"...langsung dikira pacaran."

Petugas itu tertawa.

"Pak Ujang dulu nggak gitu?"

Pak Ujang langsung terkekeh.

"Dulu?"

"Dulu lebih parah."

"Kami belum punya WhatsApp."

"Jadi gosipnya keliling kampung."

Keduanya tertawa.


Jam istirahat pertama.

Kayla sedang menyusun laporan OSIS di perpustakaan.

Nabila datang membawa dua buku.

"Kay."

"Hm?"

"Kamu sadar nggak?"

"Apa?"

"Sekarang kalau Raka lewat depan kelas..."

"...anak-anak langsung nengok ke kamu."

Kayla menghela napas kecil.

"Aku sadar."

"Ganggu?"

"Sedikit."

"Lalu?"

"Aku memilih mengabaikan."

Nabila mengangguk.

"Itu bagus."

"Tapi..."

Ia menatap Kayla.

"...ngabaikan gosip beda sama ngabaikan perasaan."

Kayla berhenti menulis.

"Maksudmu?"

"Sampai sekarang..."

"...kamu udah ngobrol belum sama Raka soal ini?"

Kayla terdiam.

Belum.

Mereka memang membahas gosip itu di halte.

Namun belum pernah benar-benar membicarakan bagaimana perasaan masing-masing.


Di lapangan basket.

Latihan baru saja selesai.

Dion melempar botol minum ke arah Raka.

"Nih."

"Makasih."

Raka meneguk air beberapa kali.

Dion duduk di sampingnya.

"Rak."

"Hm?"

"Gue mau nanya."

"Nanya apa?"

"Lo nyaman nggak..."

"...jadi bahan gosip?"

Raka tertawa kecil.

"Nggak nyaman."

"Terus?"

"Ya udah."

Dion mengernyit.

"'Ya udah' gimana?"

"Aku nggak bisa ngontrol omongan orang."

Dion mengangguk pelan.

"Tapi..."

"...kalau Kayla mulai jaga jarak gara-gara gosip?"

Pertanyaan itu membuat Raka membeku.

Untuk pertama kalinya...

Kemungkinan itu benar-benar terlintas di pikirannya.


Sore harinya.

Evaluasi PRISMA kembali dilaksanakan.

Namun kali ini...

Suasana ruang seminar sedikit berbeda.

Dr. Maya membuka sesi tanpa presentasi.

Beliau hanya meletakkan sebuah kotak kaca di atas meja.

Di dalamnya terdapat puluhan kertas kecil.

"Hari ini."

kata beliau.

"...kita akan melakukan eksperimen sederhana."

Beliau meminta setiap peserta mengambil satu kertas.

Kayla membuka miliknya.

Di sana tertulis:

"Orang lain berkata pasanganmu terlalu pendiam."

Raka membuka kartunya.

"Temanmu menyuruhmu menjauhi pasangan penelitian."

Keduanya saling memandang.

Tanpa sadar.

Kartu mereka...

Seolah saling berhubungan.


Dr. Maya mulai menjelaskan.

"Selama hidup..."

"...kalian akan bertemu banyak suara."

"Suara keluarga."

"Teman."

"Tetangga."

"Media sosial."

"Orang asing."

Lihat selengkapnya