Selasa pagi.
Dua hari setelah Festival Literasi.
Suasana sekolah mulai kembali normal.
Atau setidaknya...
Begitulah yang terlihat.
Namun di dunia yang lebih kecil—
layar ponsel para siswa—
Festival itu ternyata belum benar-benar selesai.
Pukul 06.20.
Di dalam bus menuju sekolah, Kayla sedang membaca ulang jadwal rapat OSIS ketika ponselnya bergetar.
Grup Angkatan XI
Notifikasi terus bertambah.
Fikri: Woy, video festival udah di-upload akun sekolah.
Dion: Masuk FYP nih kayaknya 😂
Nabila: Serius?
Fikri: Udah 18 ribu views.
Kayla mengernyit.
Delapan belas ribu?
Untuk video kegiatan sekolah?
Ia membuka aplikasi media sosial sekolah.
Benar saja.
Video proyek mereka sudah diposting sejak semalam.
Jumlah penonton terus bertambah.
Komentarnya pun ratusan.
Awalnya...
Komentarnya biasa saja.
"Videonya bagus."
"Narasinya keren."
"Sekolahnya keren."
Namun semakin ke bawah...
Nada komentarnya mulai berubah.
"Yang narasi cowok sama cewek itu jadian ya?"
"Chemistry-nya dapet banget."
"Fix ini bukan akting."
"Mana akun mereka?"
Kayla menutup aplikasi.
Dadanya terasa sedikit tidak nyaman.
Di sisi lain sekolah...
Raka baru selesai memarkir sepeda.
Dion langsung berlari menghampiri.
"Rak!"
"Hm?"
"Lo viral."
Raka tertawa.
"Apaan."
"Bener."
Dion menunjukkan layar ponselnya.
Video yang sama.
Jumlah penontonnya kini sudah melewati tiga puluh ribu.
"Wah."
gumam Raka.
"Cepet juga."
"Masalahnya bukan views."
"Lalu?"
Dion memperbesar kolom komentar.
"Ini."
Salah satu komentar mendapat ribuan tanda suka.
"Semoga mereka beneran jadian."
Di bawahnya...
Ratusan balasan.
Raka hanya menghela napas pelan.
Jam istirahat.
Kelompok tugas kembali berkumpul.
Siska membuka laptop.
"Kabar baik."
"Apa?"
"Video kita dipilih jadi contoh presentasi sekolah."
"Wah."
"Nah."
"Bagus dong."
kata Raka.
"Tapi..."
Siska memutar layar.
Komentar-komentar terus berdatangan.
Bukan lagi membahas isi video.
Melainkan...
Kayla dan Raka.
Ruangan perlahan menjadi sunyi.
Nabila menggeleng pelan.
"Internet emang cepet."
Kayla menutup laptop perlahan.
"Komentarnya dimatikan saja?"
usulnya.
Siska menggeleng.
"Itu akun resmi sekolah."
"Bukan wewenang kita."
Raka mengangguk.
"Biarkan saja."
Namun tepat saat itu...
Ponsel Nabila berbunyi.
Ia membaca layar beberapa detik.
Lalu wajahnya berubah.
"Kenapa?"
tanya Kayla.
Nabila ragu.
"Ada akun anonim."
"Apa?"
"...dia bilang."
Nabila membaca pelan.
'Pasti penelitian cuma alasan buat cari pasangan.'
Ruangan langsung hening.
Raka mengambil napas panjang.
"Lupakan."
katanya.
"Itu cuma komentar."
Namun belum sempat suasana membaik...
Ponsel Kayla ikut bergetar.
Pesan pribadi.
Akun yang tidak dikenal.
"Ketua OSIS kok nggak profesional? Ikut penelitian malah pacaran."
Kayla membeku.
Beberapa detik.
Ia membaca ulang pesan itu.
Lalu...
Tanpa sadar...
Tangannya menggenggam ponsel lebih erat.
Raka melihat perubahan ekspresi itu.
"Kay?"
Tidak ada jawaban.