30 HARI JADI PACAR

Ahmad Barnash
Chapter #20

Aturan #15 — Jangan Membiarkan Masalah Kecil Menumpuk

Rabu pagi.

Hujan turun sejak subuh.

Langit Jakarta masih kelabu ketika Kayla tiba di sekolah.

Ia baru saja melangkah melewati gerbang ketika Pak Ujang mengangkat tangan.

"Pagi, Neng Ketua."

"Pagi, Pak."

Pak Ujang memperhatikan wajah Kayla beberapa detik.

"Lagi banyak pikiran?"

Kayla tersenyum tipis.

"Kelihatan ya?"

"Sedikit."

Pak Ujang mengangguk.

"Kalau hujan begini..."

"...selokan yang mampet kelihatannya cuma genangan kecil."

"Padahal..."

"...airnya numpuk di bawah."

Kayla tersenyum sopan.

Namun kalimat itu terus terngiang bahkan setelah ia memasuki gedung sekolah.


Jam pertama berlangsung seperti biasa.

Tetapi grup WhatsApp PRISMA tidak berhenti berbunyi.

Dimas:

Hari ini evaluasi dimulai lebih awal.

Dr. Maya ingin bertemu seluruh peserta.

Tidak ada penjelasan lain.

Hanya kalimat singkat itu.

Kayla menatap layar ponselnya beberapa saat.

Entah kenapa...

Perasaannya mendadak tidak tenang.


Di kelas IPS.

Raka juga membaca pesan yang sama.

Dion langsung menyenggol lengannya.

"Rak."

"Hm?"

"Biasanya kalau dosen bilang."

"'Ada yang mau dibahas.'"

"...berarti ada masalah."

Raka tertawa kecil.

"Mudah-mudahan nggak."

Namun jauh di dalam hatinya...

Ia juga memiliki firasat yang sama.


Pukul tiga sore.

Seluruh peserta PRISMA sudah duduk lengkap.

Namun kali ini...

Suasana ruang seminar terasa jauh berbeda.

Tidak ada musik pembuka.

Tidak ada permainan.

Tidak ada simulasi.

Dr. Maya berdiri di depan bersama kepala sekolah dan salah satu wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.

Beberapa peserta mulai saling berpandangan.

Dimas membuka rapat dengan nada lebih serius dari biasanya.

"Terima kasih sudah hadir."

"Hari ini..."

"...kami perlu menyampaikan sesuatu."

Ruangan mendadak sunyi.


Dr. Maya mengambil alih.

"Dua hari terakhir..."

"...sekolah menerima beberapa pesan dari orang tua siswa."

Beberapa peserta langsung saling menoleh.

"Sebagian besar mendukung penelitian."

"Tetapi..."

Beliau berhenti sejenak.

"...ada juga yang mempertanyakan."

"Apakah penelitian ini..."

"...masih sesuai dengan tujuan awal."

Ruangan benar-benar hening.

Kayla perlahan menggenggam pulpen di tangannya.


"Kami juga menerima."

lanjut Dr. Maya.

"...beberapa tangkapan layar komentar media sosial."

"Lalu..."

"...surat elektronik anonim."

Beberapa peserta mulai terlihat tegang.

"Isinya?"

tanya salah seorang siswa.

Dimas menjawab pelan.

"Menuduh penelitian ini..."

"...mendorong siswa berpacaran."

Kalimat itu seperti menjatuhkan sesuatu di tengah ruangan.

Tak ada suara.

Tak ada bisikan.

Hanya keheningan.


Wakil kepala sekolah akhirnya berbicara.

"Sampai saat ini..."

"...kami masih mendukung Project PRISMA."

"Tetapi."

Beliau memandang seluruh peserta.

"Kalian juga harus membantu kami menjaga kepercayaan orang tua."

Kayla mengangguk pelan.

Raka juga.

Mereka memahami maksudnya.

Masalah ini...

Sudah bukan hanya tentang mereka.

Tetapi tentang nama sekolah.

Dan juga penelitian kampus.


Setelah pihak sekolah keluar...

Ruangan tetap sunyi.

Dr. Maya kembali berdiri.

"Saya ingin bertanya."

Beliau menatap seluruh peserta satu per satu.

"Menurut kalian."

"Masalah ini muncul karena satu komentar?"

Beberapa peserta menggeleng.

"Tidak."

"Karena video?"

"Sebagian."

"Karena gosip?"

Lihat selengkapnya