Sabtu pagi.
Aula Universitas Nusantara tampak jauh lebih ramai daripada biasanya.
Di depan pintu masuk terpampang sebuah spanduk besar.
SEMINAR TERBUKA PROJECT PRISMA
Membangun Komunikasi Sehat pada Remaja Melalui Pembelajaran Berpasangan
Di bawahnya terdapat logo sekolah, universitas, dan laboratorium psikologi.
Siswa.
Guru.
Orang tua.
Mahasiswa.
Bahkan beberapa wartawan pendidikan lokal turut hadir.
Bukan karena penelitian ini sangat terkenal.
Melainkan karena...
Kontroversinya sudah lebih dulu menyebar.
Kayla berdiri di balik panggung sambil memegang susunan acara.
"MC siap."
"Proyektor?"
"Aman."
"Sound?"
"Sudah dicek."
Panitia mahasiswa mengangguk satu per satu.
Dimas mendekati Kayla.
"Deg-degan?"
Sedikit.
Kayla tersenyum kecil.
"Kelihatan?"
"Enggak."
"Itu masalahnya."
Kayla tertawa pelan.
"Aku terlalu biasa nyembunyiin."
Dimas mengangguk.
"Justru hari ini..."
"...nggak apa-apa kalau sedikit kelihatan."
Di sisi lain gedung.
Raka baru datang bersama ayahnya.
Budi mengenakan kemeja batik sederhana.
Tangannya masih membawa helm motor.
"Wah."
gumam Budi.
"Universitasnya gede juga."
"Iya."
Raka tersenyum.
"Makasih udah datang."
"Lho."
Budi menepuk bahu anaknya.
"Katanya penelitian yang bikin anak saya sekarang rajin bangun pagi."
"Masa saya nggak datang."
Raka tertawa.
"Pak..."
"Iya?"
"Nanti jangan bercanda terus ya."
Budi mengangguk serius.
"Lima menit pertama aja."
Di dalam aula.
Kayla melihat ayah dan ibunya duduk di barisan kedua.
Ibunya melambaikan tangan.
Kayla membalas dengan senyum tipis.
Lalu pandangannya beralih.
Di sisi kanan aula...
Ia melihat Raka sedang berbicara dengan ayahnya.
Budi tertawa lepas sambil mengacak rambut anaknya.
Raka tampak berusaha merapikan rambutnya kembali.
Kayla tanpa sadar tersenyum.
"Kay."
Suara Nabila mengejutkannya.
"Hm?"
"Senyum lagi."
"Aku?"
"Iya."
"Nggak."
"Nggak apa?"
"Nggak senyum."
Nabila mengangguk pura-pura percaya.
"Tentu."
Seminar dimulai pukul sembilan tepat.
MC membuka acara.
Dilanjutkan sambutan kepala sekolah.
Kemudian Dekan Fakultas Psikologi.
Suasana berlangsung formal.
Sampai akhirnya...
Dr. Maya naik ke podium.
"Selamat pagi."
"Pagi."
"Hari ini..."
"...kami tidak ingin meyakinkan Bapak dan Ibu bahwa penelitian ini sempurna."
Beberapa orang tua tampak saling berpandangan.
"Kami justru ingin menunjukkan..."
"...bagaimana kami memperbaiki setiap kekurangan yang muncul."
Kalimat itu langsung menarik perhatian seluruh ruangan.
Presentasi berlangsung sekitar tiga puluh menit.
Dr. Maya menjelaskan tujuan penelitian.
Metode.
Etika.
Pendampingan.
Evaluasi.
Hingga prosedur keamanan peserta.
Beberapa orang tua mulai mengangguk.
Suasana perlahan mencair.
Namun...
Bagian yang paling ditunggu akhirnya tiba.
Sesi Tanya Jawab.
MC mempersilakan peserta mengangkat tangan.
Seorang ibu berdiri lebih dulu.
"Saya orang tua dari peserta nomor empat."
"Silakan, Bu."
"Saya mendukung penelitian ini."
"Tapi..."
Beliau berhenti sejenak.
"Bagaimana kalau akhirnya anak-anak benar-benar jatuh cinta?"
Ruangan langsung sunyi.
Beberapa siswa menoleh ke arah Kayla dan Raka.
Pertanyaan itu...
Adalah pertanyaan yang selama ini berputar di kepala semua orang.
Dr. Maya tersenyum tenang.
"Itu pertanyaan yang sangat baik."
Beliau hendak menjawab.
Namun dari barisan belakang...
Seorang pria tiba-tiba berdiri.
"Maaf."