Catatan Ritme Cerita: Mulai bab ini, benih-benih perasaan tidak lagi muncul dari konflik besar, tetapi dari rutinitas sederhana. Justru hal-hal kecil yang mulai terasa berbeda bagi Kayla dan Raka.
Senin Pagi
Seminggu setelah seminar.
Koridor SMA Garuda Mandala kembali dipenuhi suara langkah kaki.
Gosip tentang Project PRISMA memang belum sepenuhnya hilang.
Namun intensitasnya mulai menurun.
Video festival kini lebih banyak dibicarakan karena memenangkan penghargaan "Presentasi Edukasi Terbaik" dalam Festival Literasi tingkat sekolah.
Perlahan...
Sekolah kembali normal.
Atau setidaknya...
Begitulah yang terlihat.
"Selamat pagi, Ketua."
Pak Ujang mengangkat tangan dari pos satpam.
"Pagi, Pak."
"Partner belum datang?"
Kayla berhenti.
"Belum."
Pak Ujang mengangguk sambil melihat jam.
"Biasanya dua menit lagi."
"Tahu dari mana?"
"Saya satpam."
Beliau tersenyum bangga.
"Kerjaan saya mengamati."
Kayla terkekeh kecil.
Dua minggu lalu...
Ia mungkin hanya akan mengangguk lalu pergi.
Sekarang...
Ia justru berdiri beberapa detik, ikut melihat ke arah gerbang.
Tanpa sadar...
Menunggu.
"Eh."
Pak Ujang tersenyum jahil.
"Nunggu ya?"
Kayla spontan menggeleng.
"Tidak."
"Oh."
"Saya kira iya."
"Saya hanya..."
Kayla berhenti bicara.
Mencari alasan.
"...sedang melihat lalu lintas."
Pak Ujang mengangguk serius.
"Macet?"
"Iya."
"Padahal gerbang sekolah."
Kayla baru sadar.
Alasannya sangat buruk.
Pak Ujang akhirnya tertawa.
"Udah, Neng."
"Nggak usah dicari alasan."
"Namanya juga teman."
Kayla ikut tersenyum malu.
Untungnya...
Tepat saat itu sebuah sepeda berhenti di depan gerbang.
Raka.
"Hampir telat!"
serunya sambil mengatur napas.
Pak Ujang langsung menunjuk jam.
"Masih satu menit."
"Aman."
Raka mengangkat kedua tangan.
"Syukurlah."
"Morning."
sapa Raka.
"Pagi."
jawab Kayla.
"Ayo."
"Kelas."
Mereka berjalan berdampingan.
Tidak ada yang aneh.
Tidak ada yang romantis.
Namun...
Pak Ujang memperhatikan mereka dari jauh sambil bergumam,
"Kalau terus begini..."
"...penelitian yang lulus."
"Saya juga ikut lulus."
Jam kedua.
Pelajaran Bahasa Indonesia.
Bu Ratna masuk membawa setumpuk kertas.
"Hari ini..."
"...kalian mendapat tugas menulis esai."
Keluhan langsung terdengar.
"Bu..."
"Panjang nggak?"
"Lima halaman."
Satu kelas serempak mengeluh.
Tema ditulis di papan.
"Satu Kesalahpahaman yang Mengubah Cara Pandangku."
Kayla membaca tema itu.
Lalu tanpa sadar teringat perjalanan PRISMA.
Sementara itu...
Di kelas IPS.
Pak Surya juga memberikan tugas serupa.
Namun dengan format presentasi.
"Tema bebas."
"Asal tentang pengalaman yang mengubah kalian."
Dion langsung berbisik.
"Rak."
"Hm?"
"Lo tinggal cerita soal PRISMA."
"Dapat nilai A."
Raka tertawa kecil.
"Belum tentu."
"Kenapa?"
"Soalnya..."
"...aku masih bingung."
"Bingung apa?"
"Pengalaman mana yang paling mengubah."
Jam istirahat.
Kayla duduk di perpustakaan.
Laptop terbuka.
Namun halaman esainya masih kosong.
Nabila datang membawa dua gelas jus.
"Belum mulai?"
Kayla menggeleng.
"Aneh."
"Biasanya kamu paling cepat."
"Aku..."
Ia memandang layar kosong itu.
"...kebanyakan pilihan."
Nabila duduk di depannya.
"Ceritain aja."
"Hm?"
"Apa yang paling berkesan."
Kayla berpikir.
"Banyak."
"Misalnya?"
"Belajar mendengarkan."
"Belajar meminta maaf."
"Belajar bertanya."
"Belajar..."
Ia berhenti.
"Apa lagi?"
"Belajar..."
"...kalau ternyata aku nggak harus melakukan semuanya sendirian."
Nabila tersenyum hangat.
"Itu."
"Tulis itu."