Catatan Penelitian Hari ke-21
"Rasa tidak aman jarang muncul karena orang lain lebih baik. Ia muncul ketika seseorang mulai percaya bahwa dirinya tidak cukup."
Senin pagi.
Hujan semalam menyisakan udara yang lebih sejuk dari biasanya.
Sinar matahari menembus sela-sela pepohonan di halaman SMA Garuda Mandala, memantulkan embun yang masih menempel di daun-daun ketapang.
Gerbang sekolah mulai dipenuhi siswa.
Beberapa sibuk mengejar bel pertama.
Sebagian lagi masih menikmati sarapan sambil bercanda di kantin.
Di pos satpam...
Pak Ujang sedang menyiram tanaman.
"Pagi, Neng Ketua."
"Pagi, Pak."
Kayla membalas senyum sambil memperbaiki tali tas ranselnya.
Pak Ujang melihat ke arah belakang Kayla.
"Lho?"
"Partner belum datang?"
Kayla refleks ikut menoleh.
Belum ada sepeda hitam yang biasa berhenti di depan gerbang.
"Belum."
jawabnya singkat.
Pak Ujang melirik jam tangannya.
"Biasanya..."
"...dua menit lagi."
Kayla tersenyum kecil.
"Bapak hafal ya."
"Hafal."
"Soalnya tiap pagi saya lihat."
Beliau menyiram bunga lagi.
"Kalau orang datang terus di jam yang sama..."
"...lama-lama bukan hafal jamnya."
"Tapi hafal orangnya."
Kalimat itu membuat Kayla terdiam sesaat.
Untungnya...
Sebuah suara rem sepeda terdengar dari depan gerbang.
"Ckitt..."
"Napas..."
Raka turun dari sepedanya sambil mengatur napas.
"Hampir."
gumamnya.
Pak Ujang menunjuk jam.
"Masih tiga puluh detik."
"Aman."
Raka langsung tersenyum lega.
"Lulus lagi."
Pak Ujang terkekeh.
"Yang diuji tiap pagi cuma ketepatan waktu."
"Belum hubungan."
Raka belum sempat mencerna maksud kalimat itu.
Kayla sudah lebih dulu berjalan menuju gedung utama.
"Ayo."
"Bel masuk."
"Iya."
Raka segera menyusul.
Jam pertama.
Ruang guru.
Bu Ratna baru saja menerima tamu dari Universitas Nusantara.
Seorang mahasiswa mengenakan jas almamater biru tua berdiri sambil membawa beberapa map.
"Selamat pagi, Bu."
"Pagi."
"Terima kasih sudah datang."
Mahasiswa itu tersenyum ramah.
"Sama-sama."
"Perkenalkan."
"Saya Adrian Prasetyo."
"Asisten penelitian Project PRISMA."
Bu Ratna mengangguk.
"Ah."
"Jadi kamu alumni sini."
"Iya, Bu."
"Angkatan tiga tahun lalu."
"Kalau begitu nanti sekalian menyapa adik-adik kelas."
"Tentu."
Jam istirahat pertama.
Bel baru saja berbunyi ketika Dimas memasuki kelas XI IPA 1.
"Permisi."
Bu Ratna mengangguk.
"Silakan."
Dimas tersenyum kepada seluruh kelas.
"Hari ini ada satu mahasiswa baru yang akan membantu observasi PRISMA."
Beberapa siswa langsung saling berbisik.
Mahasiswa?
Observasi lagi?
Pintu kelas terbuka.
Seorang pria muda melangkah masuk.
Tinggi.
Rapi.
Berkemeja putih dengan jas almamater universitas.
Wajahnya tenang.
Senyumnya sopan.
"Selamat pagi."
"Saya Adrian."
"Alumni sekolah ini."
"Dan mulai minggu ini akan membantu Bu Dr. Maya selama penelitian berlangsung."
Suasana kelas mendadak hidup.
"Dia alumni?"
"Masih muda banget."
"Kayak kakak tingkat."
Adrian hanya tertawa kecil.
"Saya juga dulu duduk di bangku yang sama seperti kalian."
Setelah perkenalan singkat, Dimas memanggil beberapa peserta PRISMA.
"Kayla."
"Iya."
"Boleh sebentar?"
Kayla mengangguk lalu keluar kelas.
Di koridor...
Adrian mengulurkan tangan.
"Halo."
"Kayla Pramesti?"
"Iya."
"Saya sering dengar nama kamu."
Kayla tampak sedikit bingung.
"Dari siapa?"
"Guru-guru."
"Katanya Ketua OSIS sekarang sangat disiplin."
Kayla tersenyum tipis.
"Semoga bukan karena sering dipanggil ke ruang guru."
Adrian tertawa pelan.
"Humormu ternyata lebih bagus dari laporan observasi."
Kayla ikut tertawa kecil.
Percakapan mereka mengalir ringan.
Tentang organisasi.
Festival Literasi.
Dan rencana evaluasi PRISMA.
Di sisi lain koridor...
Raka baru saja keluar dari kelas IPS setelah dipanggil guru piket.
Ia berjalan sambil membawa beberapa bola basket menuju gudang olahraga.
Namun langkahnya melambat.
Dari kejauhan...
Ia melihat Kayla sedang berbicara dengan seseorang yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Mereka tampak sedang tertawa.
Bukan tertawa keras.
Tetapi cukup lepas.
Raka berhenti beberapa detik.
"Itu siapa?"
gumamnya pelan.
Tepat saat itu...
Dion datang dari belakang sambil membawa dua botol minuman.
"Ngapain bengong?"
Raka masih melihat ke arah koridor.
"Itu."
"Siapa?"
Dion ikut menoleh.
"Oh."
"Yang jas biru?"
"Iya."
"Katanya mahasiswa."
"Asisten penelitian."
Raka mengangguk pelan.
"Kayaknya..."
"...dia kenal sama Kayla."
"Ya iyalah."
"Dua-duanya anak organisasi."
"Mungkin nyambung."
Kalimat itu sederhana.
Namun...