30 HARI JADI PACAR

Ahmad Barnash
Chapter #24

Yang Tidak Pernah Dibicarakan

Catatan Penelitian Hari ke-22

"Semakin seseorang takut dianggap tidak cukup, semakin besar kemungkinan ia menyembunyikan apa yang sebenarnya ia rasakan."


Sore itu.

Koridor Gedung Psikologi Universitas Nusantara mulai lengang.

Sebagian besar mahasiswa sudah pulang.

Kayla masih berdiri di depan ruang seminar.

Di tangannya...

Sebuah map cokelat.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar formulir observasi.

Saat satu lembar hampir terlepas...

Ia refleks menangkapnya.

Di bagian atas tertulis:

Observasi Khusus – Pasangan 07

Belum sempat matanya membaca isi halaman itu...

Sebuah suara terdengar dari belakang.

"Kayla?"

Ia langsung menoleh.

Adrian berjalan cepat menghampirinya.

"Wah."

"Untung ketemu."

"Aku ketinggalan map."

Kayla segera menyerahkan map tersebut.

"Maaf."

"Tadi hampir jatuh."

Adrian menerimanya sambil tersenyum.

"Terima kasih."

Ia membuka map sebentar.

Memastikan semua dokumen masih lengkap.

"Lembar observasinya aman?"

Kayla mengangguk.

"Aku belum sempat baca."

Adrian terlihat lega.

"Bukan karena rahasia."

katanya cepat.

"Hanya..."

"...catatan observasi mentah sering disalahartikan kalau dibaca tanpa penjelasan."

Kayla mengangguk memahami.

"Tenang."

"Aku juga nggak berniat membaca."

Adrian tersenyum.

"Makasih."

Lalu ia pergi.

Percakapan itu berlangsung kurang dari satu menit.

Sederhana.

Tidak penting.

Setidaknya...

Begitulah menurut Kayla.


Di Tempat Lain

Raka sedang membereskan bola-bola basket ke gudang olahraga.

Biasanya pekerjaan itu selesai dalam sepuluh menit.

Hari ini...

Sudah hampir dua puluh menit.

"Rak."

Coach berdiri di depan pintu.

"Iya, Coach?"

"Kamu nyusun bola..."

"...atau lagi menghitung motif karetnya?"

Raka baru sadar.

Ia memegang bola yang sama sejak tadi.

"Maaf."

"Lagi kepikiran."

Coach mengangguk pelan.

"Tahu bedanya pertandingan sama latihan?"

Raka menggeleng.

"Di pertandingan..."

"...lawan ada di depan."

"Di latihan..."

"...lawan sering ada di kepala sendiri."

Coach menepuk bahunya.

"Kalau pikiranmu lagi ramai..."

"...istirahat sebentar."

"Jangan dipaksa."

Kalimat itu kembali mengenai sasaran.

Hari itu...

Entah mengapa...

Semua orang seperti sedang berbicara tentang isi kepalanya.


Selasa Pagi

PRISMA mendapat tugas baru.

Masing-masing pasangan harus membuat video refleksi berdurasi lima menit.

Bukan presentasi.

Bukan laporan ilmiah.

Melainkan percakapan biasa.

Tema yang diberikan hanya satu.

"Apa satu hal yang belum pernah kamu katakan kepada partner penelitianmu?"

Ruangan langsung riuh.

"Aduh."

"Ini susah."

"Harus jujur?"

"Nggak bisa bohong?"

Dimas tertawa.

"Namanya juga refleksi."


Kayla membuka buku catatan.

"Ada ide?"

tanyanya kepada Raka.

Raka menggeleng.

"Belum."

"Kita rekam Jumat?"

"Boleh."

Jawabannya singkat.

Terlalu singkat.

Kayla meliriknya.

Biasanya...

Raka akan menambahkan candaan.

Atau bertanya balik.

Hari ini tidak.


Sepulang sekolah.

Mereka berjalan menuju halte seperti biasa.

Namun langkah mereka tidak lagi serapi biasanya.

Ada jeda kecil.

Sekitar satu langkah.

Tidak jauh.

Tetapi cukup terasa.

Kayla menyadarinya.

Namun ia mengira...

Raka mungkin hanya lelah setelah latihan.

Sementara Raka...

Sengaja berjalan sedikit lebih lambat.

Bukan karena marah.

Melainkan karena pikirannya masih dipenuhi kalimat Adrian.

"Kalau dia sedikit lebih percaya diri..."

Kalimat itu terus berputar.

Semakin dipikirkan...

Semakin terdengar seperti kebenaran.


"Rak."

"Hm?"

"Kamu capek?"

"Sedikit."

"Latihan berat?"

"Iya."

Jawaban itu tidak sepenuhnya bohong.

Tetapi juga bukan jawaban sebenarnya.

Kayla mengangguk.

"Kalau gitu besok kita kerjain video setelah latihan aja."

"Boleh."

"Lama?"

"Terserah."

Jawaban itu membuat Kayla berhenti melangkah.

"Terserah?"

Raka ikut berhenti.

"Hm?"

"Kamu udah lama nggak ngomong 'terserah'."

Raka baru sadar.

Benar.

Kata itu kembali keluar.

"Oh..."

"...refleks."

Kayla tersenyum kecil.

"Nggak apa."

"Tinggal kuingatkan."

Kalimat itu diucapkan dengan ringan.

Penuh niat baik.

Namun di telinga Raka...

Ia justru merasa seperti sedang kembali ke titik awal penelitian.

"Berarti..."

Lihat selengkapnya