32 HAL TENTANG KAMU

IGN Indra
Chapter #4

KOTAK TUA DI ATAS LEMARI

Buatku, Minggu itu hari yang ganjil, tak sejahat Senin yang menyebalkan, tapi juga bukan pahlawan seperti Sabtu. Hari Minggu itu abu-abu, berdiri di perbatasan, seperti penipu yang terombang-ambing di antara kebebasan dan kewajiban.  Siang hari rasanya milik kita, tapi begitu sore hari tiba, PR Matematika mulai mengendap-endap, menghantui, membisikkan rumus-rumus terkutuk yang bikin kepala pening.

Siang itu, kamarku berubah jadi oven raksasa.  Matahari di luar sana sedang marah-marah, membakar segalanya, menghukum aspal serta genteng tanpa ampun. Kipas angin jadi satu-satunya sekutu, berputar pelan, walaupun dengan suara yang payah, terdengar putus asa. Nguuung... Nguuung... Bunyinya terdengar letih persis dengan tubuhku yang malas bergerak.

Sepanjang siang, hanya rebahan, telentang di atas kasur, menatap langit-langit kamar. Di pojoknya ada sarang laba-laba kecil. Aku jadi penasaran, apakah laba-laba itu juga bosan?  Mungkin ia juga sedang mengamatiku balik, membatin, "Manusia ini kerjaannya cuma tiduran saja." Siapa yang tahu?  Dunia ini ternyata lebih rumit dari yang tertulis di dalam buku pelajaran.

Aku sudah mencoba segala cara mengusir bosan. Mulai dari menghitung semut yang berbaris di dinding, yang ternyata gagal, karena barisan mereka pecah saat aku baru sampai hitungan ketujuh belas. Melempar koin ke dalam gelas pun tak pernah berhasil, malahan kamarku makin berantakan jadinya. Mendengarkan radio pun isinya cuma lagu-lagu cinta yang membuatku ingin muntah. Sebenarnya aku tidak membenci cinta. Aku cuma belum paham saja. Rasanya sama dengan saat disuruh mengerjakan soal ujian yang materinya belum pernah diajarkan. Tiba-tiba saja, dari luar pintu, terdengar suara yang lebih lantang dari teriakan komando jenderal di medan perang.

"Fareeel! Kamarmu itu diberesin, toh! Mirip kapal pecah!"

Itu suara Ibuku. Kalau sudah begitu, aku tidak punya pilihan lain. Melawan Ibuku hanya akan memperpanjang penderitaan sama artinya dengan mencoba menahan tsunami pakai payung. Sia-sia belaka, kan. Dengan berat hati, aku bangkit. Tenaga yang tadinya aku irit-irit hanya untuk bernapas, sekarang mau tidak mau harus kupakai untuk membereskan kekacauanku sendiri. Baju kotor kumasukkan ke dalam keranjang, buku-buku yang berserakan kutumpuk di atas meja, koin-koin yang tadi gagal masuk ke gelas kupunguti satu per satu.

Saat itulah mataku menangkapnya. Benda yang sebenarnya selalu ada di sana, tapi entah kenapa baru kali ini aku benar-benar memperhatikannya. Di atas lemari pakaianku yang tinggi, teronggok sebuah kotak, yang warnanya cokelat tua, agak dekil, dan tampak kokoh. Aku tidak pernah ingat menaruh apa pun di sana.

"Kotak apa itu?" pikirku.

Rasa isengku yang tadinya hampir mati suri, tiba-tiba bangkit lagi. Ini lebih menarik daripada menghitung semut. Aku menyeret kursi belajar, lalu menaikinya dengan sedikit goyang, setelahnya berjinjit sekuat tenaga. Tanganku kemudian meraba-raba permukaan berdebu di atas lemari. Ah, akhirnya dapat, berat juga, ya. Bruk! Kotak itu berhasil kutarik turun dan mendarat di atas kasur, menebarkan awan debu tipis yang menari-nari di bawah cahaya matahari yang masuk dari sela jendela nako. Aku terbatuk kecil. Baunya aneh, aroma waktu yang mengendap, bau kertas yang sudah lama tak disentuh udara.

Aku duduk di tepi kasur, menatap kotak itu lekat-lekat. Ada semacam pengait kuningan di depannya, sudah berkarat dan tak terkunci. Dengan hati-hati, aku membuka pengaitnya. Klik. Pelan sekali suaranya, selirih bisikan hantu, lalu perlahan aku mengangkat tutupnya. Dalam hati, aku berharap menemukan harta karun di dalamnya, atau mungkin sepucuk pistol tua, atau setidaknya koleksi kaset band rock era 80-an. Tapi ternyata isinya jauh dari bayanganku... sungguh mengecewakan.

Yang kutemukan hanya tumpukan buku catatan, tiga buah jumlahnya. Sampulnya dari kulit imitasi yang warnanya sudah pudar. Ada juga terselip beberapa lembar foto hitam-putih yang sudah menguning. Salah satunya menampilkan seorang laki-laki muda berambut ikal, berdiri di depan stasiun kereta api. Wajahnya mirip Ayah, tapi jauh lebih kurus dan... cemas? Di foto lain, ia duduk di bawah pohon, memeluk buku yang sama.

Aku mengambil salah satu buku catatan itu. Aku, Farel, yang biasanya membaca buku paket sekolah saja sudah ngos-ngosan, entah kenapa, buku catatan itu seolah menarikku untuk membuka halaman pertamanya. Di dalamnya ada tulisan tangan yang miring-miring tapi rapi. Aku yakin itu  tulisan tangan Ayah waktu muda.

Aku hampir saja menutupnya lagi. Ini kan privasi orang tua, rasanya tidak sopan mengintipnya. Tapi satu kalimat di halaman yang terbuka secara acak membuatku bertahan. 

Lihat selengkapnya