Jangan sampai Ojan tahu kalau aku pernah ngomong begini. Bisa-bisa kepalanya membengkak, lebih besar dari utang uang kasnya ke bendahara kelas. Tapi menurutku, teman itu kayak sambal, ada yang pedasnya cuma numpang lewat di lidah, ada yang pedasnya sampai bikin air mata tumpah, dan ada juga yang level Ojan. Ia bukan sambal, Ojan itu cabai rawitnya langsung. Paling nikmat kalau digigit bulat-bulat, hidup jadi lebih seru, sekaligus bikin bertanya-tanya soal pilihan hidup.
Hari itu hari Kamis. Di sekolah kami, hari Kamis punya dua makna. Pertama, jadwalnya penuh monster-monster dari neraka kurikulum kayak Fisika, Matematika Wajib, lalu ditutup dengan Kimia. Kedua, hari Kamis adalah harinya Pak Suryo, atau yang lebih akrab kami sapa dengan diam-diam, di belakang punggungnya dengan julukan Pak Kumis.
Pak Suryo itu guru Matematika yang baik, malah sangat baik. Saking baiknya, beliau sangat rajin membagikan hadiah, yang berupa kuis dadakan. Beliau bilang itu untuk melatih kesiapan mental kami menghadapi kerasnya kehidupan duniawi. Sejujurnya, menurutku, supaya kami semakin jago mencari alasan untuk tinggal di UKS.
“Selamat pagi, anak-anak,” sapa Pak Kumis pagi itu sambil meletakkan tasnya yang berat di atas meja. Tas itu sepertinya tak hanya berisi buku, tapi juga penderitaan seluruh siswa dari angkatan pertama. “Karena hari ini cerah dan saya lihat wajah kalian semua bersemangat…”
Aku melirik Ojan. Wajahnya jauh dari kata semangat. Ia menunjukkan raut wajah yang merupakan definisi dari pasrah, persis muka ikan di pasar yang sudah tahu nasibnya akan berakhir di atas wajan.
“…jadi, kita akan mulai pelajaran hari ini dengan kuis kecil.” Lanjut Pak Kumis dengan senyumnya khasnya. Senyum itu yang membuat para malaikat di langit mungkin ikut merasa was-was, membuat seisi kelas kompak mengeluarkan suara dengungan panjang yang putus asa, suara hmmmmmm yang kalau diubah menjadi energi listrik, mungkin cukup untuk menyalakan satu kecamatan. Suara itu adalah jiwa-jiwa kami yang serentak keluar dari raganya, lalu duduk termenung di pojokan kelas.
“Tenang, soalnya cuma lima,” kata Pak Kumis, berusaha membuat seisi kelas kembali tenang. “Hanya materi integral lipat tiga yang kita bahas kemarin.”
Lima soal mungkin terdengar sepele. Tapi lima soal dari Pak Kumis biasanya persis lima gerbang neraka, masing-masing dijaga oleh iblis dari spesies yang berbeda-beda. Kemarin, gerbang pertama saja gagal kulewati, aku malah sibuk meneliti pola tidur nyamuk di tembok belakang sekolah dengan mendalam.
Pelajaran berlangsung dengan tempo paling lambat di alam semesta. Aku hanya sanggup menatap papan tulis yang penuh dengan simbol-simbol alien. Aku yakin, kalau saja ada alien yang mendarat di sekolah kami, mereka akan mengira papan tulis Pak Kumis sebagai pesan selamat datang untuk mereka.
Akhirnya, bel istirahat berbunyi, semerdu suara terompet dari surga. Kami—aku, Ojan, Dodi, dan beberapa anggota regu penyelamat nilai lainnya—bergegas menuju markas besar, berkumpul. Warung langganan di belakang sekolah, di sana kopi instan berubah menjadi minuman para dewa dan bala-bala jadi santapan wajib para pejuang.
“Mampus,” kata Ojan sambil menyeruput es tehnya dengan kasar. “Lima soal. Gue bahkan enggak tahu integral itu nama orang atau nama penyakit.”
“Gue tahu jawabannya,” kata Dodi, membuat kami semua reflek menoleh padanya dengan wajah penuh harap.
“Jawabannya adalah mari kita berdoa,” lanjutnya, lalu kami semua serentak melemparinya dengan sedotan bekas.
Aku diam, berusaha berpikir keras, memutar otakku yang biasanya hanya aktif untuk mencari rute kabur paling cepat, sekarang kupaksa bekerja lebih keras lagi. Masalahnya bukan pada soalnya, masalah utamanya ada pada waktunya. Kuis itu akan diadakan jam terakhir nanti, setelah istirahat kedua, kami benar-benar memimpikan keajaiban.
“Gue punya ide,” kata Ojan tiba-tiba dengan mata yang berbinar. Biasanya itu pertanda buruk sekaligus bagus di saat yang bersamaan. Ide Ojan isinya 90% kekonyolan, tapi 10% sisanya kadang-kadang jenius. Masalahnya, kita tidak pernah tahu kapan yang 10% itu akan muncul.
“Kalau idenya butuh lari, gue enggak ikut,” kataku. “Hemat energi.”
“Enggak butuh lari,” kata Ojan sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. Kami semua ikut-ikutan mencondongkan tubuh ke depan, layaknya sekumpulan detektif yang akan memecahkan kasus pembunuhan paling rumit. “Kita cuma perlu… bikin bel pulang sekolah bunyi lebih cepat.”
Kami semua terdiam, mencerna idenya.
“Lo gila?” sahut Dodi. “Itu bel otomatis, Jan. Kontrolnya di ruang TU, kan, dijaga sama Pak Mamat.”
Pak Mamat itu satpam sekolah kami yang kumisnya lebih lebat dari kumis Pak Suryo. Beliau punya satu keahlian, tidur dengan mata yang terbuka. Menembus pertahanannya lebih sulit daripada menembus hati cewek yang baru putus cinta.