Aku punya teori. Waktu di sekolah itu jalannya tidak pernah normal. Ia melambat drastis saat pelajaran Sejarah dan melesat secepat cahaya saat istirahat. Sekarang, jarum jam di dinding kelas kami sepertinya sedang mogok kerja, jarumnya bergerak malas, merayap, mungkin lelah, sama sepertiku.
Pelajaran Sejarah dengan Pak Tirtayasa biasanya jadi medium terbaik untuk menguji kesabaran umat manusia. Suaranya monoton, datar, sama dengan radio tua yang macet di satu frekuensi saja, berubah jadi lagu nina bobo versi sejarah. Sementara itu, di luar jendela, posisi matahari ada di puncak kejahatannya, memanggang aspal lapangan basket sampai berasap, membuat otakku ikut-ikutan meleleh, beralih ke mode hemat daya.
Sebelum Pak Tirtayasa masuk, Bu Marni sempat mampir sebentar. Beliau guru Bahasa Indonesia favoritku. Sepertinya cuma beliau guru yang sudah berdamai dengan takdir bahwa murid sepertiku memang akan selalu ada. Beliau datang untuk mengembalikan tugas mengarang minggu lalu. Beliau berhenti tepat di mejaku. Kelas yang tadinya seberisik pasar pindahan, seketika hening. Mungkin mereka pikir aku akan menerima surat panggilan orang tua lagi.
"Farel," katanya dengan suara tenang. "Ini tugasmu." Beliau meletakkan selembar kertas di mejaku. Ada nilai B+ yang ditulis dengan tinta merah di pojok atasnya. Lumayan juga. Biasanya, hubunganku dengan nilai B itu sama halnya dengan hubunganku dan bangun pagi, jarang terjadi.
"Gaya tulisanmu selalu menarik, Farel. Penuh perumpamaan yang tidak terduga." Beliau berhenti sejenak, menatapku. Aku diam saja. Aku tahu pasti ada kata tapi setelah ini. Dalam hidup, pujian itu mirip trailer film, bagian terbaiknya selalu diikuti dengan kisah yang sebenarnya. "Sayangnya,"—nah, kan—"temanya tentang Pahlawan Favoritku, dan kamu menulis tiga halaman tentang kenapa tukang gorengan di kantin yang jadi pahlawan ekonomi mikro. Sedikit melenceng, ya."
Beberapa murid cekikikan. Aku hanya mengangkat bahu. Menurutku tidak melenceng, tukang gorengan itu pahlawan sejati, yang menyelamatkan perut kami dari kelaparan dan, yang lebih penting, menjauhkan dompet kami dari kekeringan. Pahlawan semacam itu lebih realistis di jaman sekarang, daripada pahlawan yang hanya ada di dalam buku pelajaran.
Bu Marni tersenyum tipis. Senyum yang membuatku bingung karena tidak tampak mengejek, ataupun marah. Hanya senyum biasa. Lalu, saat hendak berbalik, beliau berkata lagi, kali ini suaranya terdengar sedikit lebih pelan, hanya aku yang dengar. "Farel, nanti istirahat pertama, temui Ibu sebentar di ruang guru, ya."
Jantungku yang tadinya santai langsung mengambil posisi siaga, berdegup kencang. Ruang guru adalah dua kata yang jika digabungkan, artinya tidak pernah baik. Buatku, ruang guru sama dengan markas besar para pemberi tugas, penentu nasib, dan kadang-kadang, algojo nilai rapor. Aku hanya mengangguk. Entah kenapa, aku merasa lebih gugup dipanggil karena tulisan daripada akibat membolos.
Dan benar saja, selama pelajaran Sejarah, aku sama sekali tidak fokus mendengarkan Pak Tirtayasa menjelaskan tentang Perang Diponegoro. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri yang sedang berperang melawan rasa penasaran. Kenapa aku dipanggil? Apa sekarang menuliskan tentang tukang gorengan dianggap sebagai tindakan subversif? Apakah aku akan dituduh mencoba menggulingkan kurikulum? Aku mencoba mengalihkan pikiranku dengan melirik Kayla, target misiku yang lain. Ia duduk dua baris di depanku, di sisi sebelah kanan, punggungnya tegak mirip tiang bendera. Bahkan dari belakang pun, aku bisa merasakn aura sudah terasa tidak wajar. Aura orang yang tidak punya waktu untuk bercanda, tipe yang terlalu serius. Ia sedang menulis dengan kecepatan yang stabil, mirip mesin printer hidup. Aku yakin catatannya lebih rapi dari buku paket, mungkin dengan stabilo empat warna dan kode rahasia yang hanya ia dan PBB yang paham.
Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga sebelum perasaan bosan menghantui, bel istirahat berbunyi. Aku berjalan ke ruang guru dengan langkah yang berat. Perasaanku mirip terpidana mati yang saat ini sedang berjalan menuju tiang gantungan. Aku mengetuk pintunya, lalu berjalan masuk. Ruangan itu penuh dengan guru, tapi Bu Marni melemparkan isyarat untuk duduk di kursi kosong di hadapannya. Beliau sendiri berdiri di dekat lemari buku.
"Ada apa, Bu?" tanyaku, mencoba terdengar sesantai mungkin.
"Tidak ada apa-apa," jawabnya penuh senyum. "Ibu mau bicara soal tugas kamu."
Beliau menatapku. "Kenapa tukang gorengan?"
"Maksudnya, Bu?"