32 HAL TENTANG KAMU

IGN Indra
Chapter #7

SURAT KALENG PERTAMA

Alasan ke-2: Suara lo pas marah nyaring banget. Ngingetin gue sama alarm kebakaran.


Keberanian di dunia ini banyak jenisnya. Ada keberanian para pahlawan yang maju ke medan perang, ada keberanian seorang astronot yang meluncur ke luar angkasa, selain itu, ada juga keberanian dengan level paling rendah, keberanian kelas teri untuk melakukan hal bodoh yang aku setujui akibat kalah taruhan saat otak sedang tidak sinkron. Nah, pagi ini, aku sedang mencoba mengumpulkan keberanian level paling rendah itu.

Kertas kecil yang berisi alasan pertama—yang tentu saja tentang kenapa aku harus menyukai Kayla—tergeletak di meja belajarku. Aku menatapnya sejak bangun tidur, bentuknya sudah tidak karuan, sedikit lecek karena beberapa hari kemarin jadi penghuni saku celanaku yang penuh dengan penderitaan. Tulisan tanganku sendiri terlihat asing, mirip kode rahasia seorang teroris amatir yang sedang merencanakan kejahatan receh.

Sempat terlintas untuk mengurungkannya. Aku bisa saja bilang pada Ojan dan yang lainnya kalau suratnya hilang, atau dimakan kambing, atau aku tiba-tiba terserang amnesia akut sampai lupa cara menulisnya. Tapi kemudian aku ingat prinsip hidupku yang paling penting dan utama, berdebat itu sungguh melelahkan. Menjelaskan kebohongan baru untuk menutupi janji dari kebohongan lama akan butuh kerja otak yang lebih rumit berkali lipat. Jadi, ya sudah, baiknya aku jalani saja sesuai rencana.

Janji tetaplah janji, bahkan jika janji itu dibuat di bawah tekanan tawa konyol teman-teman dan ancaman uang kas. Justru karena janji itu bodoh, jadi harus ditepati, biar level kebodohannya makin sempurna dan paripurna. Dengan berat hati, aku lipat kembali kertas itu dan memasukkannya ke saku seragamku. Rasanya seolah memasukkan granat tanpa pin ke dalam saku. Aku hanya bisa berharap tidak meledak di waktu yang salah.

Perjalanan ke sekolah hari ini terasa berbeda. Biasanya aku hanya berjalan santai sambil menendang kerikil. Sekarang, aku berjalan diiringi pikiran kusut mengatur strategi. Otakku yang biasanya hanya aktif untuk mengingat jalan pulang, sekarang dipaksa bekerja keras. Kapan waktu yang aman untuk menyelipkannya? Bagaimana caranya agar tidak ada saksi mata? Apakah laci meja Kayla menyimpan alarm anti-maling? Pertanyaan-pertanyaan genting yang aku yakin tidak akan pernah muncul saat ujian.

Aku sampai di sekolah lebih pagi dari biasanya, bagian dari rencana besar. Menurut perhitunganku, di jam sepagi ini, kelas pasti masih kosong. Hanya ada meja, kursi, dan hantu-hantu murid yang arwahnya tertinggal karena tidak bisa mengerjakan soal fisika. Kesempatan emas.

Koridor masih lengang. Aku melangkah pelan, mengendap-endap, berhati-hati padahal tidak ada siapa-siapa. Punggungku sedikit membungkuk, mengikuti gaya agen rahasia di film-film. Kalau ada musik latar, mungkin lagunya Mission Impossible versi keroncong. Cuma bedanya, agen rahasia membawa pistol berperedam suara, aku membawa secarik kertas bertuliskan penghinaan terselubung.

Lihat selengkapnya