Ternyata menjadi pengganggu itu tidak semudah yang terlihat. Aku akhirnya tahu. Butuh strategi dan riset kelas berat secara mendalam. Aku tidak mungkin terus-terusan menulis surat yang isinya, Meja lo lebih rapi dari masa depan gue. Sungguh membosankan. Jangankan targetku, diriku pun sepertinya sudah punya kekebalan super terhadap sarkasme klise semacam itu.
Surat-surat pertamaku bagaikan lemparan batu ke tembok baja. Mental, tidak ada bekasnya sama sekali. Ia hanya melihatnya sekilas, kadang membacanya, kemudian meremasnya menjadi bola padat yang mematikan, yang pada akhirnya dibuang dengan gerakan yang anggun. Dirinya seolah berkata, “Terima kasih atas sampahnya, tapi tempat sampah kami sudah penuh.” Aku tidak lagi dianggap ancaman, aku hanya dianggap gangguan kecil yang menjemukan.
Masalahnya, bahan kejujuranku untuk menjadi menyebalkan kian menipis. Aku tidak tahu apa-apa lagi tentang Kayla selain fakta bahwa dirinya memang galak, pintar, dan punya bakat terpendam menjadi mesin penghancur kertas. Sekarang, aku butuh data segar, aku butuh amunisi baru.
Jadi, hari itu, aku memutuskan untuk beralih profesi, dari seorang pujangga gagal, dan resmi menjadi seorang peneliti lapangan profesional. Misi baruku sekarang menjadi observasi subjek penelitian bernama Kayla Adisti. Jangan coba-coba berpikir kalau aku menyukainya. Ini semua hanyalah demi taruhan, demi sisa harga diriku yang sudah tidak seberapa bernilai.
Observasi hari pertama, habitat perpustakaan.
Saat jam istirahat, aku melihat Kayla berjalan menuju perpustakaan. Tentu saja, ke mana lagi seorang ratu es macam Kayla akan pergi kalau bukan ke istananya yang paling dingin. Aku mengintainya dari jarak yang aman, berpura-pura sedang mencari buku tentang cara beternak lele dumbo, hanya untuk berjaga-jaga saja, kalau-kalau ada yang bertanya.
Ia memilih untuk duduk di sudut yang paling sepi. Sementara aku bersembunyi di balik rak buku Sejarah, di antara buku tentang kerajaan Majapahit dan revolusi Prancis, tempat yang menurutku aman, instingku berkata, tidak akan ada murid waras yang mendekati rak ini.
Aku mengintipnya dari celah rak. Apa yang ia lakukan? Apa ia sedang menyusun rencana untuk menguasai dunia? Atau sedang menulis surat balasan untukku yang isinya kutukan dalam bahasa Sansekerta? Ternyata tidak, aku melihat Kayla hanya… belajar. Ia membuka buku Fisika, lalu mulai menulis di buku catatannya. Tangannya bergerak dengan kecepatan yang konstan dengan raut wajah yang serius. Matanya tidak pernah lepas dari buku, selama dua puluh menit penuh, ia hanya melakukan itu. Belajar, menulis, membalik halaman, belajar, menulis, membalik halaman, berulang-ulang.
Aku menghela napas panjang. Mengamati Kayla terasa lebih membosankan daripada menonton cat kering. Apa yang bisa kutulis dari kejadian ini?
Alasan ke-3: Gue suka cara lo natap buku Fisika. Seolah buku itu adalah musuh bebuyutan yang harus lo taklukkan malam ini juga.
Lemah, sangat lemah, aku yakin bisa lebih baik dari ini. Aku memutuskan untuk menyerah saja. Penelitianku gagal total bahkan di hari pertama, sungguh memalukan. Aku tidak mendapatkan apa-apa, selain sebuah fakta bahwa Kayla mungkin saja reinkarnasi dari mesin fotokopi.