32 HAL TENTANG KAMU

IGN Indra
Chapter #9

PERUBAHAN STRATEGI

Alasan ke-5: Lo kelihatan galak, tapi gue lihat lo ngasih pupuk ke tanaman di depan kelas yang hampir mati. Lo peduli sama hal-hal kecil yang orang lain abaikan.


Menjalankan Misi 32 ini ibarat makan keripik pedas level 10. Awalnya aku merasa diriku adalah jagoan di film-film, tapi lama-kelamaan perutku memberontak, mulai terasa tidak enak, keringat dingin mengalir karena pusing. 

Hari kedua, aku menjalankan tugasku sesuai rencana. Aku menyelipkan catatan berisi alasan ke-2 yang sudah kusiapkan. Isinya tentang suaranya yang seperti alarm kebakaran. Hasilnya sama tak jauh beda yang pertama, kertasku dibaca sekilas, diremas dengan kekuatan penuh kebencian, lalu dilempar ke tempat sampah seolah sampah nuklir yang berbahaya, tanpa reaksi berlebihan. Hanya proses pemusnahan yang berjalan dengan dingin dan cepat.

Hari ketiga, aku mencoba strategi lain. Kali ini, aku menulis sesuatu yang lebih pendek, Alasan ke-3: Meja lo lebih rapi dari masa depan gue. Hasilnya tetap saja sama dengan hari sebelumnya. Dibaca, diremas, dibuang. Kayla punya konsistensi yang luar biasa hebat dalam hal menolak keberadaanku. Diam-diam membuatku sedikit kagum.

Hari keempat, saat aku mulai kehabisan ide. Otakku yang biasanya encer untuk mencari alasan bolos, mendadak beku saat dipaksa mencari alasan menyukai Kayla. Aku akhirnya menulis, Alasan ke-4: Lo kalau jalan cepat banget. Kayak lagi dikejar rentenir. Sesuai dugaan, tulisan itu sudah pasti jadi karya terlemahku. Dan benar saja, kertas itu bahkan tidak diremas. Kayla hanya melipatnya, lalu menjatuhkannya ke tempat sampah dengan tatapan jenuh. Level penghinaannya meningkat, aku tidak lagi dianggap ancaman, aku hanya dianggap gangguan kecil yang tidak penting.

Saat itulah aku sadar, strategi seranganku gagal total. Sarkasme tidak mempan untuk menghadapi Kayla. Penghinaan terselubung tidak berhasil, aku butuh pendekatan baru. Aku butuh tambahan informasi, seperti yang terjadi di belakang sekolah tempo hari, aku harus kembali menjadi peneliti amatir. Masalahnya, Kayla bukanlah subjek yang mudah diamati. Ia bergerak dalam pola yang sama setiap hari. Datang tepat waktu, belajar, pergi ke perpustakaan, pulang tepat waktu, begitu terus berulang-ulang. Dunianya benar-benar sekaku seragam sekolah yang baru saja digilas panas mesin setrika.

Karenanya aku benar-benar membutuhkan keajaiban. Atau paling tidak, kebetulan. Dan beruntungnya, kebetulan itu tiba pada hari kelima, di pagi hari. Aku datang lebih pagi dari biasanya. Aku tahu, aku bukanlah siswa yang mendadak rajin tanpa sebab. Aku juga sedang melakukan tobat nasuha. Alasan yang sebenarnya lebih menyedihkan dari itu, aku salah pasang alarm. Aku kira jam enam, ternyata masih jam lima. Apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur, tidurku sudah hancur menjadi serpihan debu kamar. Jadi, kuputuskan saja untuk berangkat. Siapa tahu dengan datang lebih pagi, aku bisa menyerap sisa-sisa kepintaran anak-anak rajin yang mungkin tertinggal di udara kelas.

Saat itu, saat sekolah masih sepi, yang terlihat hanya beberapa petugas kebersihan dan murid-murid dari planet fomo, yang selalu punya ambisi untuk jadi yang pertama, yang sudah duduk manis di kelas sambil membaca buku yang tebalnya mirip bantal. Aku berjalan santai di koridor, tepat disaat itulah aku melihatnya.

Aku melihatnya di ujung koridor kelasku, di dekat deretan pot-pot tanaman hias yang menjadi proyek gagal pelajaran biologi tahun lalu, aku melihat sesosok punggung yang kukenal. Punggung yang tegaknya sekaku penggaris kayu di kelas, siapa lagi kalau bukan Kayla. Ia sedang berjongkok, sendirian, ia pasti menyangka tidak ada siapa-siapa di sekitarnya. Aku langsung berhenti, bersembunyi di balik pilar besar. Lagi-lagi aku meniru gaya agen rahasia, sepertinya aku punya bakat di bidang ini. Aku mengintip dengan rasa penasaran, apa yang sedang Kayla lakukan. Apa Kayla sedang menaruh perangkap untukku? Apa Kayla sedang melakukan ritual klenik untuk dewa buku agar kepintarannya bertambah?

Lihat selengkapnya