Duniaku tak ubahnya persamaan dengan banyak variabel, X sama dengan biaya pengobatan Ayah, Y sama dengan tumpukan pekerjaan Ibu di warung, serta Z menjadi simbol dari semua ekspektasi yang menempel di pundakku. Tugasku di keluarga kecilku adalah menemukan solusi yang pasti. Karenanya aku menciptakan konstanta-ku sendiri, belajar, mendapat peringkat satu, dan masuk universitas terbaik.
Di tengah semua kekacauan, angka dan rumus yang menjadi satu-satunya bahasa yang paling jujur untukku, mereka tidak pernah berbohong, selalu apa adanya.
Saat jam istirahat di suatu siang, aku dan Siva menempati meja kami yang biasa di kantin. Di hadapanku ada bekal makan siang dan buku catatan kecil berisi rangkuman bab Fisika berikutnya. Aku punya waktu dua puluh lima menit, cukup untuk makan dalam sepuluh menit dan menghafal tiga rumus turunan dalam lima belas menit sisanya. Efisiensi adalah segalanya.
"Jadi, Kay, menurutmu, Pak Tirtayasa itu kalau di rumah nontonnya apa, ya?" Siva membuka percakapan kala itu, matanya sama sekali tidak menatapku, berfokus pada semangkuk bakso di hadapannya.
Aku berhenti mengunyah. "Kenapa kamu tanya soal itu?"
"Habisnya aku penasaran," katanya sambil menyeruput kuah. "Masa orang seserius itu nontonnya sinetron? Atau mungkin jangan-jangan nonton kartun, ya? Bayangin aja, Pak Tirtayasa nonton Spongebob sambil ketawa. Dunia ini aneh, kan?"
Aku menghela napas, begitulah Siva yang kukenal. Di saat aku sedang sibuk menghitung vektor dan merencanakan masa depan, ia sibuk memikirkan tontonan guru Sejarah kami. Siva adalah variabel pengganggu dalam persamaanku, dirinya menjadi variabel yang tidak pernah bisa kuprediksi. Siva juga yang menjadi satu-satunya sahabatku.
"Enggak penting, ah, Siv," kataku, mencoba kembali fokus pada catatanku. "Yang lebih penting, kamu udah nyicil belajar buat ujian masuk universitas belum?"
Siva meletakkan sendoknya dengan sedikit keras, membuatku kaget. Ia menatapku dengan wajah memelas yang sudah sangat kuhapal. "Kayla, kumohon. Ujiannya masih berbulan-bulan lagi. Jantungku aja belum siap buat deg-degan, kenapa otakku harus dipaksa kerja rodi dari sekarang? Kita ini, kan, masih remaja, ya. Remaja itu harusnya menikmati hidup, bukan menghafal nama-nama raja."
Aku ingin sekali menjawabnya. Aku ingin sekali bilang, "Aku enggak punya kemewahan untuk menikmati hidup, Siv." Aku ingin cerita tentang malam-malam di mana aku dipaksa oleh keadaan untuk belajar sambil menahan tangis karena mendengar Ayah batuk tanpa henti di kamar sebelah. Aku ingin menjelaskan padanya bahwa setiap nilai 100 yang kudapat, itu satu-satunya caraku untuk menabung harapan, hari demi hari.
Tapi aku tidak melakukannya, karena aku punya aturan yang ketat. Aturan nomor satu, jangan pernah menunjukkan kelemahan kepada siapa pun, meskipun kepada Siva.