Ssssttt… Jangan bilang siapa-siapa, ya. Ini rahasia yang aku coba pecahkan. Menurutku, Kayla itu robot, aku serius. Dia itu program komputer paling canggih yang menyamar jadi anak SMA. Semuanya serba terjadwal, serba teratur. Bangun pagi, belajar, di akhir catur wulan menjadi peringkat satu, lalu pulang, membantu ibunya. Terus saja berulang seperti itu. Tak ada sedikit pun diberikan celah untuk eror. Tak ada tempat untuk virus.
Tak hanya itu, menurut analisisku yang lainnya, analisis gembelku ala pemecah konspirator, aku menduga Kayla adalah jenis spesies yang sama dengan spesies yang ada di film Man In Black, mungkin saja tubuh Kayla telah diambil alih sepenuhnya oleh Alien yang bersembunyi di balik tempurung kepala atau tulang dadanya, jadi kemungkinannya ada dua, Kayla adalah robot dalam film Terminator atau avatar Alien dalam film Man In Black. Keduanya sama-sama kakunya.
Tapi aku bercanda, jangan dianggap serius, ya. Aku Siva, sahabatnya. Tugasku di dunia ini sederhana, menjadi virus itu, variabel pengganggu agar programnya sedikit lebih seru. Aku yang mengajaknya bicara tentang Bima si kapten basket saat dia sedang menghafal tabel periodik. Aku yang memaksanya mencoba seblak level lima sampai wajahnya memerah kepedasan. Aku seperti peri keceriaan yang hadir di tengah hidupnya yang sekaku penggaris besi.
Dan selama ini, aku selalu berhasil, ya, meskipun dia lebih sering mengomel, memutar bola matanya sambil cemberut lucu, berpura-pura marah, tapi pada akhirnya dia akan kembali ke mode normalnya, setelah sistemnya kembali aman.
Sampai hari itu, hari di mana virusnya bukan lagi datang dariku. Melainkan dari selembar kertas lecek. Aku sudah tahu soal surat-surat kaleng itu sejak hari pertama. Surat sampah, begitu katanya. Aku setuju dengan Kayla. Isinya tak lebih dari ejekan murahan dari si tukang bully rahasia. Selama empat hari pertama, kebiasaannya selalu sama. Kayla menemukannya, membacanya sekilas, lalu meremasnya menjadi bola padat dan melemparkannya ke tempat sampah dengan gerakan anggun yang mematikan. Itulah Kayla yang kukenal, robot yang sedang membuang data sampah.
Tapi di hari kelima, programnya mengalami kerusakan. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dia menemukan surat kelima, kali ini kertasnya lebih rapi. Dia membacanya, lalu diam termenung. Ekspresi diamnya sedikit menimbulkan pertanyaan. Ekspresi diam yang memendam kebingungannya sendiri. Lalu, ada lagi hal lain yang paling tidak masuk akal terjadi. Dia melipat kertas itu, dan memasukkannya ke dalam saku roknya. Kayla benar-benar menyimpannya.
Surat itu lama-lama menjadi eror dalam sistemnya. Setahuku, robot tidak akan pernah menyimpan sampah, robot tidak pernah bingung akibat tulisan orang iseng. Saat itu aku tahu, ada yang salah. Eh… Atau benar ya? Aku bingung. Salah karena membuat Kayla bingung tapi juga benar karena membuat Kayla hidup.
"Kay, baksonya Pakde hari ini kuahnya lebih mantap, lho," kataku suatu siang di tengah kantin sekolah. Aku mencoba memicu percakapan seperti biasanya. Aku selalu menjalankan tugas muliaku sebagai pencair suasana. Dia hanya mengaduk-aduk bekalnya saat itu. Nasi dengan tumis buncis, makanan yang sehat dengan struktur yang jelas.
"Kay?"
Dia mengangkat kepalanya. "Iya, Siv?"
"Kamu aneh deh beberapa hari ini," kataku tanpa basa-basi, karena itu adalah gayaku. "Lebih pendiam dari biasanya. Ya, walaupun biasanya kamu juga udah pendiam, sih. Ini kayak… level diam kuadrat terus dikuadratin lagi."