32 HAL TENTANG KAMU

IGN Indra
Chapter #15

GETARAN DI TEMBOK

Kamu tahu, sebelum semuanya ini dimulai, duniaku tak lebih dari sistem yang berjalan sempurna. Semuanya punya tempat, semuanya punya aturan. Pagi hari untuk belajar, jam istirahat untuk mengulangi catatan, sore hari untuk membantu Ibu. Tidak ada tempat untuk keanehan. Tidak ada celah untuk hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Bagiku, hidup hanyalah soal-soal fisika yang, jika kamu cukup teliti, pasti akan menemukan jawabannya.

Lalu kamu datang, bukan sebagai sesorang yang kukenal, tapi sebagai hantu yang meninggalkan sampah di laciku. Aku menyebutnya sampah karena memang begitulah awalnya. Selama empat hari berturut-turut, aku menemukan secarik kertas lecek di antara buku-bukuku yang tersusun rapi. Bagiku itu pelanggaran teritori yang menjengkelkan. Aku punya kebiasaan untuk itu. Menemukannya, membaca sekilas dengan napas yang tertahan karena jengkel, lalu dengan satu gerakan pasti, aku meremasnya menjadi bola padat dan melemparkannya ke dalam tempat sampah. Thump. suaranya terdengar memuaskan di telingaku. Masalah dengan mudah dapat kusingkirkan agar sistem kembali berjalan normal.

Surat pertama, tentang tatapanku yang katanya ingin memusnahkan kecoa terbang, langsung kuremas tanpa ampun. Kreatif, tapi tetap saja kata-katanya sampah. Surat kedua, tentang suaraku yang disamakan dengan alarm kebakaran, juga berakhir di tempat yang sama. Surat ketiga dan keempat? Semakin payah dan tidak kreatif. Aku menyimpulkan, pengirimnya pastilah seseorang yang punya terlalu banyak waktu luang dengan sedikit sel otak.  Aku menganggapnya gangguan yang sepele. Sistemku selalu berhasil menyingkirkannya. Hingga di hari kelima sistemku mulai rusak.

Pagi itu, sebelum bel berbunyi, aku melakukan kebiasaan rahasiaku. Di ujung koridor, ada deretan pot tanaman hias teronggok, yang menjadi proyek gagal pelajaran biologi tahun lalu. Mereka semua merana, tapi ada satu yang paling menyedihkan. Daunnya berwarna kuning, batangnya yang kurus tampak tidak sanggup lagi menopang beban, menyerah pada matahari. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tidak ingin membiarkannya mati. Mungkin karena aku melihat diriku di dalam diri tanaman itu. Diriku yang berjuang keras sendirian agar tidak layu di tengah dunia yang tidak peduli pada kehidupan. Diam-diam, aku memberinya pupuk cair yang kubawa dari rumah. "Jangan mati, ya," bisikku padanya. "Kamu pasti bisa."

Tidak ada yang melihatnya, aku sangat yakin itu. Sekolah masih seperti kota hantu. Lalu, di kelas, aku menemukan surat kelima. Kertasnya lebih rapi, tulisannya lebih tertata. Aku membukanya, bersiap dengan ejekan baru. Tapi yang kutemukan bukanlah ejekan.

Alasan ke-5: Lo kelihatan galak, tapi gue lihat lo ngasih pupuk ke tanaman di depan kelas yang hampir mati. Lo peduli sama hal-hal kecil yang orang lain abaikan.

Jantungku berhenti berdetak selama beberapa detik. Aku membaca kalimat itu lagi dan lagi. Mengulanginya beberapa kali hingga lama kelamaan aku merasa berkebalikannya, justru kalimat itu yang menatapku, seolah tahu semua rahasiaku.

Bagaimana ia tahu? Pertanyaan itu terasa seperti batu yang dilempar ke permukaan danau yang tenang di dalam duniaku, menciptakan riak-riak kecil yang tidak bisa berhenti bergetar. Surat itu tidak lagi menjadi gangguan, melainkan lebih dari itu. Aku menganggapnya laporan pengamat rahasia, yang melanggar batas privasiku. Seseorang telah mengintip momen paling pribadiku, momen di mana aku tidak sedang menjadi Kayla yang semestinya.

Benteng pertahananku, yang kubangun dengan susah payah, terasa bergetar. Ada retakan kecil muncul. Siapa orang ini? Siapa yang punya waktu, perhatian, dan ketajaman lebih untuk melihat hal yang bahkan Siva, sahabatku sendiri, tidak tahu?

"Lho? Kok enggak dibuang, Kay?" Suara Siva di sebelahku terdengar datang dari semesta lain.

Aku terkesiap, cepat-cepat kulipat kertas itu kembali. Tapi kali ini, tanganku menolak keras untuk meremasnya. Rasanya sama dengan menghancurkan bukti penting, bukti bahwa ada seseorang di luar sana yang melihatku, benar-benar melihatku.

"Tulisannya... beda," jawabku pelan, berbisik hingga nyaris tak terdengar.

"Beda gimana?"

Lihat selengkapnya