Rumahku tidak pernah punya bel. Hanya ada engsel yang berderit dengan suara yang akrab yang selalu menyambutku setiap pulang sekolah, penanda bahwa aku sudah tiba di satu-satunya tempat di dunia di mana aku boleh rapuh. Aku melangkah masuk. Aroma minyak kayu putih dan masakan Ibu yang sudah dingin langsung menyergap, menenangkan. Aku meletakkan tas di dekat pintu, sepatu kulepas dengan gerakan yang terasa seribu kali lebih lambat dari pikiranku. Di sekolah, aku bagai mesin, bergerak dan berpikir serba cepat, menjawab sigap. Di rumah ini, aku hanya seorang anak perempuan yang sudah lelah berpura-pura untuk menjadi kuat seharian.
Benteng pertahananku runtuh seketika saat aku melihat Ibu duduk di kursi ruang tengah, melipat tumpukan lap bersih untuk dibawa ke warung nanti malam. Wajahnya terlihat lelah, garis-garis di sudut matanya terlihat lebih dalam di bawah cahaya lampu yang temaram.
"Sudah pulang, Kay?" sapanya, sambil tersenyum. Senyum yang tampak sama lelahnya dengan wajahnya.
Aku hanya mengangguk, sembari menghampirinya dan mencium tangannya. "Ibu sudah makan?"
"Sudah tadi, sama Ayah. Kamu makan dulu saja. Lauknya Ibu sisihkan di meja," katanya.
Aku menggeleng. "Nanti aja, Bu. Aku mau lihat Ayah dulu."
Ibu tidak menjawab. Ia hanya menatapku dengan pandangan yang penuh pengertian. Kami punya bahasa kami sendiri, bahasa yang tidak butuh banyak kata, yang tercipta dari kelelahan yang sama dan harapan yang kami pikul bersama.
Aku berjalan menuju kamar di ujung lorong, kamar Ayah. Di depan pintunya yang tertutup aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengukir sebuah senyuman di wajahku. Senyuman ini berbeda dengan senyum kaku seperti di sekolah, yang kupaksakan agar terlihat hangat, agar terlihat bahwa semuanya baik-baik saja.
Aku mengetuk pelan, lalu membuka pintu. "Ayah..."
Ayah sedang berbaring, membaca koran bekas kemarin. Ayah menoleh saat aku masuk, dan wajahnya langsung bersinar. "Eh, putri Ayah sudah pulang," katanya, suaranya sedikit serak. Ayah mencoba untuk duduk, tapi batuk kering yang keras menahannya.
Aku bergegas mendekat, membantunya bersandar pada bantal. Punggungnya kuusap perlahan sampai batuknya mereda. Aku benci suara batuk itu, musuhku yang paling nyata, pengingat pahit akan karat yang sedang menggerogoti pahlawanku.