Alasan ke-8: Ternyata lo kelihatan beda di bawah lampu pasar malam. Enggak segalak di bawah lampu neon kelas.
Di mata para pakar cinta di kelasku, malam minggu adalah malam keramat. Malam untuk apel, pamer motor baru, atau minimal mencurahkan kisah nestapa di tempat nongkrong dengan latar lagu galau. Bagiku dan teman-temanku, malam minggu artinya sangat sederhana, pindah tempat nongkrong dari warung belakang sekolah ke tempat yang udaranya tidak terlalu kental aroma kopi instan.
Malam ini, pilihan kami jatuh pada pasar malam di alun-alun. Pasar malam itu ibarat sekolah di malam hari, ramai, bising, dan semua orang berlomba-lomba menunjukkan versi terbaik dari diri mereka. Bedanya, di sini tidak ada guru BP, yang ada hanya penjual rambut nenek, komidi putar yang musiknya terdengar sekusut pita kaset lawas, serta bapak-bapak yang menyuruhmu melempar gelang ke leher botol dengan iming-iming hadiah piring cantik, sebagai jebakan kebahagiaan yang paripurna.
“Rel, main itu, yuk!” ajak Ojan sambil menunjuk stan lempar bola. Hadiahnya boneka lumba-lumba berwarna pink yang matanya juling. “Gue mau dapetin itu buat gebetan gue.”
“Gebetan lo yang mana?” tanyaku. “Data terakhir yang gue tahu, ada tiga.”
“Yang paling baru,” jawabnya enteng.
Aku hanya menggelengkan kepala kebingungan. Malam ini aku sedang tidak tertarik untuk membuktikan kejantananku dengan cara melempar bola ke tumpukan kaleng susu kental manis. Pikiranku melayang ke surat ke-7 yang kemarin kuselipkan di lacinya. Isinya tentang caranya mengikat tali sepatu. Reaksinya masih sama. Ia membacanya, lalu menyimpannya tanpa komentar atau ekspresi. Penelitianku butuh data baru yang lebih mengguncang.