Duniaku berjalan di atas rel aturan-aturan. Percayalah, kamu harus tahu ini. Aturan nomor satu, jangan pernah menunjukkan kelemahan. Aturan nomor dua, selesaikan setiap tugas dengan sempurna. Aturan nomor tiga, jangan pernah bergantung pada siapa pun selain dirimu sendiri. Aturan-aturan ini selalu berhasil menjadi tamengku, menjadi pelindungku dari dunia luar. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat aku akhirnya tiba di rumah. Aroma minyak goreng dari warung masih melekat di bajuku, berpadu dengan bau keringat dan sisa-sisa rasa lelah. Aku berjalan masuk dengan langkah sangat perlahan, mirip seorang maling yang sedang menyelinap di rumah sendiri. Pintu kubuka setenang mungkin karena aku tidak ingin membangunkan Ibu yang pasti sudah terlelap, atau Ayah yang tidurnya selalu gelisah.
Aku menaruh tas di lantai kamarku yang selalu rapi, lalu tubuhku bersandar di balik pintu. Aku memejamkan mata. Di sini, di dalam benteng perlindunganku yang terakhir, aku membiarkan semua rasa datang, mulai dari kaki yang pegal, punggung yang nyeri, serta kepala yang hampir meledak oleh angka-angka. Angka pesanan nasi goreng, uang kembalian, dan angka-angka lain yang lebih menakutkan, jumlah tagihan pengobatan ayahku.
Aku berjalan menuju meja belajarku. Tumpukan buku Fisika, Kimia, dan Matematika menyambutku. Mereka setia seperti sahabat lama. Mereka tidak pernah bertanya, hanya menawarkan kepastian. Rumus selalu pasti, hasil akhirnya selalu jelas. Di dunia mereka, tidak ada ruang untuk kesalahan. Aku menyukai kepastian itu. Di sanalah aku merasa berkuasa.
Tapi malam ini, rumus-rumus itu terasa seperti bahasa asing. Aku menatap persamaan diferensial, tapi yang kulihat hanyalah wajah Ayah yang semakin pucat. Hukum termodinamika kubaca, tapi pikiranku sibuk mencari cara mengubah lelah menjadi uang.
Ayah harus segera dioperasi. Kata-kata itu berputar-putar tanpa henti di kepalaku. Operasi menjadi momok yang terasa mahal dan berat. Diriku, dengan deretan nilai 100, dengan peringkat pertama, tetap saja tidak berdaya, aku tak sanggup lagi memikirkannya. Aku merasa bodoh, tidak berguna. Apa artinya bisa menghitung kecepatan cahaya jika aku tidak mampu menemukan cara untuk menyelamatkan pahlawanku sendiri?