Makan malam bersama di rumahku itu ibarat gerhana bulan. Peristiwa langka. Dan saat terjadi membawa perasaan canggung. Suara denting sendok dan garpu yang terdengar lebih keras daripada percakapannya. Ayahku seorang pria yang hemat kata. Ibuku seorang wanita yang hemat waktu. Dan aku, aku seorang anak yang hemat energi. Kombinasi yang sempurna untuk menjadi sebuah keluarga yang lebih mirip sekumpulan orang yang kebetulan tinggal di atap yang sama.
Tapi malam ini, keajaiban kecil singgah. Entah ada angin apa, Ibu pulang lebih awal dari kantornya, dan Ayah sedang tidak ingin berada di ruang kerjanya. Kami bertiga—ditambah Luna, adikku yang kadang lebih menyebalkan daripada ulangan dadakan—akhirnya duduk bersama di meja makan.
Aku memilih untuk diam saja, fokusku ada pada nasi goreng buatan Ibu yang rasanya selalu sama, selalu terlalu asin, tapi penuh dengan niat baik. Aku masih memikirkan pemandangan di pasar malam. Wajah lelah Kayla yang mencoba tersenyum, tangannya yang cekatan. Menari di kepalaku, membuat perasaanku menjadi tak karuan, campur aduk seperti es campur yang terlalu banyak mengandung sirop, manis, lengket dan bikin kepala pening.
“Tumben kamu beberapa minggu ini kalem, Rel.”
Suara Ibu memecah keheningan. Aku mengangkat kepala. Ibu menatapku dari seberang meja, matanya setajam auditor yang menemukan kejanggalan dalam laporan keuangan.
“Enggak ada surat panggilan dari sekolah?” lanjutnya.
Aku menelan nasi gorengku. “Lagi tobat, Ma,” sahutku sekenanya. Melemparkan jawaban paling aman.
“Tobat?” Luna, adikku yang duduk di sebelahku, ikutan menyahut. Mulutnya penuh dengan kerupuk. “Bukannya lagi kasmaran?”
Aku langsung melotot padanya. Anak ini, kalau bicara kadang tidak pakai filter. “Ngaco lo! Sotoy!”
“Ih, beneran, Ma!” katanya, sama sekali tidak terlihat takut dengan pelototanku. “Di sekolah sekarang dia jadi pendiam. Enggak pernah lagi keluyuran sampai sore. Pulang sekolah langsung masuk kamar. Kalau enggak naksir cewek, paling dia melihara tuyul.”
Aku ingin sekali menyumpal mulut Luna dengan sambal. Tapi di depan orang tua, aku harus menjaga citra baik sebagai kakak yang baik, walau reputasiku sudah cukup buruk.
Ibuku tidak tertawa. Ibu justru menatapku semakin tajam. “Benar, Rel? Kamu lagi dekat sama cewek?”