32 HAL TENTANG KAMU

IGN Indra
Chapter #20

SISI TERSEMBUNYI

Alasan ke-10: Gue suka cara lo ngitung uang kembalian. Teliti. Kayak hidup lo bergantung pada setiap kepingnya.


Sudah lebih dari seminggu sejak pengamatan tak terduga di pasar malam. Setelah melihat sisi lain Kayla, semua teoriku tentangnya langsung buyar. Sejak malam itu, Misi 32 berubah arah. Aku tidak lagi menganggapnya sebagai hukuman, dan juga ini bukan lagi tentang penelitian ataupun eksperimen. Sekarang, rasanya lebih seperti kebiasaan baru yang aneh, rahasia dan diam-diam membuat jantungku berdebar seperti habis lari maraton. 

Setiap pagi, aku masih menjalani ritual yang sama, menyelipkan secarik kertas ke dalam lacinya. Tapi sekarang, dengan perasaan yang berbeda. Aku tidak lagi merasa seperti maling. Aku lebih merasa seolah petugas pos rahasia yang mengantarkan surat untuk satu-satunya penerima di seluruh dunia.

Surat alasan ke-8 tentang pasar malam itu menjadi yang pertama kali kumulai dengan perasaan campur aduk. Saat menyelipkannya jantungku berdegup kencang, takut ia marah karena aku tahu rahasianya. Tapi ternyata tidak. Reaksinya masih sama seperti saat Kayla menerima surat tentang tanaman. Ia membacanya, diam beberapa saat, kemudian melipat sebelum menyimpannya. Tidak ada amarah yang terlihat di wajahnya, hanya keheningan yang panjang.

Sejak saat itu, gayaku menulis berubah total. Aku tidak bisa lagi menulis hal-hal sarkastis, rasanya tidak pantas melemparkan sarkasme karena menghina perjuangannya. Jadi, aku hanya menuliskan apa yang kulihat saja.

Alasan ke-9: Kemarin gue lihat lo betulin keran wastafel yang bocor pakai karet gelang. Padahal itu tugas penjaga sekolah. Lo itu diam-diam pahlawan kesiangan untuk hal-hal yang enggak ada pialanya.

Semua terjadi begitu saja. Aku sedang mencuci tangan, lalu melihatnya sedang mengutak-atik keran yang airnya muncrat ke mana-mana. Ia melakukannya dengan wajah serius, seolah sedang menjinakkan bom. Setelah selesai, ia hanya membersihkan tangannya dan pergi, tanpa memberitahu siapa-siapa. Aku melihat itu dan langsung seketika itu juga menuliskannya.

Lalu ada juga alasan ke-10. Untuk yang satu ini, aku butuh usaha lebih keras. Bermula dari malam minggu berikutnya, aku memutuskan untuk tidak pergi dengan Ojan dan yang lainnya. Aku bilang pada Ojan aku harus membantu ibuku di rumah, aku menganggapnya sebagai kebohongan putih yang mulia. Padahal, aku pergi ke pasar malam lagi, sendirian, tanpa tahu kenapa aku melakukannya. Aku hanya merasa harus ke sana, padahal aku juga tidak berniat untuk menemuinya atau berbicara dengannya. Aku hanya ingin memastikan apakah yang kulihat minggu lalu itu nyata atau hanya halusinasiku saja. Aku membeli segelas es teh dari warung yang berada di seberang warungnya, lalu duduk di bangku yang jaraknya agak jauh. Aku menjadi pengamat lagi. 

Malam itu, warungnya lebih ramai dari sebelumnya. Ia dan ibunya tampak sibuk luar biasa. Aku melihatnya setengah berlari ke sana kemari, mencatat pesanan, mengantar piring, dan sesekali menyeka bulir-bulir keringat di dahinya. Senyum formalitasnya masih ada. Tapi malam ini, aku bisa melihat sesuatu yang lain di balik senyumnya itu, sesuatu tentang kekuatan.

Saat warungnya mulai tutup, aku melihat pemandangan yang menginspirasi tulisanku. Aku melihat ia dan ibunya duduk berhadapan di salah satu bangku, menghitung uang hasil penjualan. Ibunya menghitung uang kertas, sedangkan Kayla menghitung uang koin. Jarinya bergerak lincah dan teliti, memisahkan koin lima ratusan dan seribuan. Matanya fokus, tidak ada satu keping pun yang luput. Ia menghitung koin-koin itu seolah setiap kepingnya menjadi penentu hidup dan mati.

Lihat selengkapnya