Ada ritme baru dalam hidupku sekarang. Pagi hari, kadang aku menjadi agen rahasia yang menjalankan misi khusus penyelipan kertas. Siang hari, aku berubah menjadi peneliti yang mengamati subjek dari jauh. Malam hari, aku berwujud penulis yang mencoba merangkai kata dari data-data yang kukumpulkan. Jadwal hidupku jadi lebih padat daripada jadwal les anak SD di komplek sebelah.
Aku jadi tahu lebih banyak hal tentang Kayla. Aku tahu kalau ia benci terong, karena setiap kali menu di kantin ada terongnya, ia akan memilih makan roti. Aku tahu ia selalu mengikat tali sepatu kanannya dua kali, mungkin karena sering lepas. Aku tahu ia punya tahi lalat kecil di bawah telinga kirinya, yang hanya terlihat kalau ia sedang menguncir rambutnya tinggi-tinggi.
Tapi jangan curiga dulu, aku tidak menguntit Kayla, yang kulakukan hanya riset kecil-kecilan. Aku terus-menerus meyakinkan diriku seperti itu, riset demi kesuksesan Misi 32. Surat-suratku pun mengalir deras. Isinya semakin jauh dari kesan sarkasme, semakin lama semakin jujur.
Alasan ke-11: Cara lo panik waktu sadar ada coretan pulpen di ujung lengan seragam lo itu lucu. Kayak dunia mau kiamat cuma gara-gara noda sekecil itu.
Lalu,
Alasan ke-12: Gue suka tulisan lo di mading sekolah. Singkat, cerdas, dan enggak ada basa-basinya. Persis kayak orangnya.
Setiap pagi, aku mengamatinya mengambil suratku, membacanya, lalu menyimpannya di dalam amplop putih keramatnya. Kami punya ritual khusus, hanya kami berdua yang tahu. Atau setidaknya, itu yang selalu kupercayai.
Ternyata, tanpa kusadari, ada pihak lain yang memperhatikan perubahanku. Pihak yang lebih berbahaya dari guru BP, yaitu Ojan.
Kejadiannya di warung belakang sekolah, habitat asli kami. Aku sedang duduk di pojok, mencoba menulis draf untuk alasan ke-13 di selembar kertas tisu, saat yang lain sedang sibuk membahas formasi tim futsal untuk pertandingan antar kelas. Aku tidak berniat ikut karena pikiranku sedang sibuk merangkai kata, mencari cara yang tepat untuk menggambarkan cara Kayla mengerutkan kening saat membaca buku.
"Rel."
Aku tidak mendengarnya.
"Farel."
Aku masih fokus pada kertas tisuku.
PLAK. Gulungan koran mendarat di kepalaku. Walaupun tidak begitu keras, tapi cukup untuk membuatku terhuyung kembali ke alam nyata. Tentu saja, pelakunya Ojan.
"Apaan sih, Jan?" protesku.