Ada kalanya di momen-momen tertentu di mana aku merasa menjadi dewa kecil yang mengintip dari balik awan. Dewa pengamat. Dewa penulis surat kaleng yang kini sudah naik pangkat, yang diberi tanggung jawab untuk mengatur dunia dari balik bayang-bayang.
Hari itu adalah salah satu momennya. Saat itu, aku sedang duduk di bangku yang berdiri di bawah pohon flamboyan, yang sekarang menjadi salah satu tempat favoritku untuk menjalani profesi ini. Dari sini, aku bisa melihat sebagian besar wilayah sekolah, sementara diriku sendiri nyaris tidak terlihat. Aku baru saja menyelipkan alasan ke-12 di dalam laci mejanya. Isinya tentang tulisannya di mading sekolah.
Aku merasa punya koneksi rahasia dengannya. Koneksi yang hanya kami berdua—atau lebih tepatnya, hanya aku—yang tahu. Aku menjadi penulis skenarionya, sutradaranya, sekaligus penonton tunggal. Aku yang memutuskan kapan harus mengirimkan surat. Setelahnya, aku yang menganalisis reaksinya. Aku yang tahu sisi-sisi dirinya yang tidak diketahui siapa pun. Di dalam duniaku, di dalam cerita yang kutulis setiap hari, akulah pemenangnya.
Saat ini aku sedang dalam suasana hati yang baik, memikirkan materi untuk tulisanku berikutnya, saat aku melihatnya. Kayla sedang berjalan sendirian dari arah ruang OSIS, menuju gudang peralatan di dekat lapangan. Dan ia tampak kerepotan.
Kayla memeluk kotak kardus besar yang sepertinya lebih berat dari seluruh dosa-dosaku. Langkahnya agak goyah. Wajahnya yang biasanya datar, sekarang sedikit berkerut menahan beban.
Dan otakku secara otomatis merespon, inilah kesempatan. Tapi, kesempatan untuk apa? Aku juga belum tahu. Hanya saja bagiku ini akan jadi sebuah adegan baru, momen yang baru. Farel yang dulu mungkin akan pura-pura tidak lihat, atau lebih parahnya, menertawakan dalam hati. Tapi Farel yang sekarang berbeda. Farel yang sekarang seorang peneliti yang berdedikasi.
Aku berdiri dengan jantung yang berdebar selaras genderang perang. Oke, Rel. Lakukan sesuatu. Tapi apa? Aku tidak tahu. Mungkin aku bisa berjalan dengan cepat ke arahnya, lalu berpura-pura tidak sengaja menabraknya agar kotaknya jatuh dan aku bisa berpura-pura membantunya membereskan. Tidak, tidak, itu terlalu bodoh, medioker mirip adegan sinetron kacangan. Mungkin lebih baik aku langsung menghampirinya. "Kay, butuh bantuan?"
Aku mencoba mengucapkan kalimat itu berulang kali di dalam kepalaku. Rasanya aneh, lidahku terasa kaku, selalu meleset saat berbisik-bisik mengucapkannya. Sebelumnya, aku dan Kayla tidak pernah berada dalam frekuensi saling membantu. Frekuensi kami hanya saling mengganggu atau saling mengabaikan.