32 HAL TENTANG KAMU

IGN Indra
Chapter #23

TAK INGIN SEMBUH

Alasan ke-15: Waktu lo gugup sebelum pidato, lo gigit bibir bawah lo. Gue pengen bilang, ‘Enggak apa-apa, lo pasti bisa.’ tapi gue cuma bisa nonton dari jauh.


Ada aturan tak tertulis di antara aku dan teman-temanku yang lebih sakral dari aturan sekolah. Aturan itu berbunyi, Jumat sore adalah waktu sakral buat tidak melakukan apa-apa di warung belakang sekolah. Salah satu ritual wajib kami untuk melepas lelah setelah lima hari berpura-pura menjadi murid yang baik. Biasanya, aku yang paling semangat menyuarakan pentingnya tradisi ini. Tapi hari Jumat kali ini sedikit berbeda. Ada sesuatu yang mengganggu jadwal suci kami.

Aku mengetahuinya secara tidak sengaja. Pagi itu, saat sedang berjalan di koridor dengan kecepatan siput, mataku menangkap pengumuman di mading, aku melihat kertas HVS berwarna kuning menyala ditempel di sana. Judulnya ditulis besar Lomba Pidato Bahasa Indonesia Tingkat Sekolah. Aku biasanya akan melewati pengumuman seperti ini tanpa pernah meliriknya. Karena hal-hal semacam itu bukanlah duniaku. Tapi kemudian, aku membaca daftar pesertanya tanpa sengaja. Dan di nomor urut tujuh, aku menangkap sebuah nama yang membuat kakiku mendadak berat.

Kayla Adisti, Kelas 3 IPA 2. Tentu saja, siapa lagi, kalau ada lomba yang hadiahnya berupa pengakuan, ia pasti ikut. Aku terpaku di depan mading selama beberapa saat. Lomba akan diadakan siang ini, setelah jam sekolah usai, di dalam aula. Itu artinya, waktunya bentrok dengan jadwal keramatku di warung. Aku harus memilih, antara gitar dan gosip ngawur bersama teman-temanku, atau penelitian.

"Woi!" Ojan menepuk bahuku dari belakang, membuatku kaget. "Ngapain lo baca mading? Tumben. Mau ikut lomba?"

"Iya," jawabku asal. "Lomba tidur cepat."

Ojan tertawa, lalu menarikku pergi. "Ayo ke kelas. Nanti telat, bisa-bisa disuruh hormat tiang bendera lagi sama Pak Kumis."

Sepanjang sisa pelajaran hari itu, pikiranku melayang kemana-mana. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri. Buat apa aku menontonnya, tidak ada gunanya. Itu bukan bagian dari taruhan, aku hanya perlu menulis 32 alasan, bukan menjadi penguntit profesionalnya. Lebih baik pergi ke warung, minum es teh, dan melupakan semuanya, simpel dan logis.

Tapi suara kecil di kepalaku muncul, suara yang terus menerus berbisik. "Ini data penting, Rel. Kau tidak boleh melewatkannya." Suara itu terdengar menyebalkan, begitu mengganggu seperti nyamuk yang merongrong di daun telinga.

Jadi, saat bel pulang berbunyi, aku membuat sebuah keputusan. Aku menghampiri Ojan yang sudah bersiap-siap menyandang tasnya.

"Jan, gue kayaknya enggak bisa ikut nongkrong hari ini," kataku dengan wajah seserius mungkin.

Ojan menatapku curiga. "Kenapa? Ada acara lo?"

Lihat selengkapnya