Andaikan setahun yang lalu ada yang mengatakan padaku bahwa markas terbaik di dunia adalah perpustakaan, mungkin aku akan memberikannya uang untuk pergi ke dokter. Buatku, perpustakaan itu sarangnya orang-orang serius yang berpura-pura sibuk, atau orang-orang mengantuk yang kehabisan bantal di rumah. Berisik, dilarang. Tertawa sudah pasti akan diprotes. Baunya juga selapuk buku-buku tua yang minta segera dikremasi. Dulu, aku selalu menganggap perpustakaan itu penjara paling membosankan di sekolah.
Sekarang berbeda, perpustakaan menjadi pos pengamatanku. Menara pantau paling strategis dengan pemandangan termahal di jagat raya. Aku tidak datang ke sini untuk membaca. Buku-buku tebal itu hanya kamuflase, alibi. Sebenarnya, aku datang ke sini untuk menunaikan tugas negara. Negara api yang sedang membakar hatiku sendiri, mungkin saja. Aku duduk di meja paling tersembunyi, di antara rak-rak buku sejarah yang baunya tercium dari masa lalu, yang terlupakan meskipun wujudnya masih ada. Dari sini, sudut pandangku tampak sempurna, aku bisa melihatnya diam-diam.
Kayla, ia ada di sana. Di meja nomor tiga dekat jendela, di baris kedua. Kayla tidak sedang menolong anak kucing yang terjebak di atas pohon. Ia juga tidak sedang menyirami tanaman-tanaman layu di taman sekolah sampai segar lagi. Ia tidak sedang melakukan hal-hal heroik lainnya yang mudah untuk kutulis. Hari ini, kayla hanya ada, terbungkus keheningannya.
Ia sedang membaca buku. Aku tidak tahu buku apa yang sedang dibacanya. Mungkin novel romantis picisan yang membuat hati seorang perempuan berbunga-bunga. Atau mungkin buku pelajaran Fisika yang isinya lebih rumit dari perasaanku sekarang. Tidak apa yang sedang Kayla baca sebenarnya tidak penting juga buatku, karena yang terpenting sekarang adalah cara ia membacanya.
Dunia di sekelilingnya seolah lenyap, menyisakan dirinya dan lembaran-lembaran kertas itu. Matanya bergerak dari kiri ke kanan, baris demi baris, menyerap setiap kata. Sesekali, keningnya nampak berkerut. Mungkin ia menemukan kalimat yang aneh, atau mungkin dia merasa tidak setuju dengan jalan pikiran si penulis. Siapa pun penulis buku itu, ia beruntung. Ia berhasil membuat Kayla memikirkannya, walaupun hanya sesaat. Sedangkan aku hanya bisa memikirkan Kayla dari jarak yang jauh.
Lalu, Kayla melakukannya. Hal kecil yang mungkin tidak ada artinya bagi orang lain. Rambutnya yang dibiarkan tergerai jatuh ke depan, menutupi sebagian wajahnya. Dengan gerakan yang santai, tanpa disadari olehnya, tangannya bergerak, menyibakkan rambut itu ke belakang telinga. Jari-jarinya menyentuh pipinya sekilas. Setelahnya kembali fokus pada bukunya.
Bagi orang lain, itu hanya gerakan yang biasa. Buatku, kejadian itu menjadi siaran langsung dari film terbaik yang tiketnya hanya diriku yang punya. Di detik itu juga, tanganku bergerak sendiri bak robot yang sudah diprogram. Merogoh saku, mengeluarkan buku catatan kecil yang sudah lecek, buku misi.
Aku membuka halaman baru yang masih kosong. Di atasnya, aku sudah siap untuk menuliskan alasan ke-16. Pulpen sudah di tangan, ujungnya melayang sepersekian senti di atas kertas, kata-katanya pun sudah aku rangkai di kepalaku dengan sangat jelas.