32 HAL TENTANG KAMU

IGN Indra
Chapter #26

EFEK SIHIR

Seperti yang sudah pernah aku ceritakan sebelumnya, setiap Jumat seharusnya terasa istimewa, menjadi waktu sakral untuk tidak melakukan apa-apa di warung belakang sekolah, seperti ritual yang sudah kami lakukan selama berada di sekolah ini. 

Tapi lagi-lagi hari Jumat ini berbeda, sama halnya dengan jumat-jumat belakangan padahal saat ini suasana hatiku sedang cerah. Alasannya sederhana, pagi tadi, aku menangkapnya, senyum tersembunyi itu. Saat ia sendirian di dalam kelas, membaca surat dariku, aku sempat melihat sudut bibirnya terangkat tipis. Hanya sekejap, sepersekian detik lamanya, tapi bagiku, menimbulkan efek perasaan yang sama ketika melihat gerhana matahari total, langka, memukau, dan membuat jantungku berdebar tak karuan. Aku seperti seorang ilmuwan yang pada akhirnya membuktikan teorinya sendiri. Teoriku tentang Kayla Adisti, dinding pertahanannya  ternyata bisa ditembus juga tanpa bom atau dinamit cukup dengan kata-kata yang kutulis di secarik kertas lecek. Aku bagaikan seorang penemu yang hebat.

Aku sedang duduk di pojok warung, di tempat favoritku, sambil mengetuk-ngetukkan jariku di meja. Pikiranku tidak sedang berada di warung, berkelana, merangkai ulang draf kata untuk alasan ke-16 yang sempat tertunda. Mungkin tentang cara ia mengernyitkan dahi saat tidak setuju dengan pendapat guru. Atau mungkin tentang virus yang sesungguhnya, yang menjalari seluruh sel di dalam tubuhku. Aku punya materi yang melimpah. Aku sekarang adalah seorang bajak laut yang menemukan harta karun bernama Kayla. Dan aku berhasil mengendalikan diriku lagi untuk menuliskan alasan ke-16. Aku hanya tak ingin menuliskan apa yang kurasakan di perpustakaan dua hari yang lalu, terasa tak sepantasnya momen seindah itu hanya menjadi kumpulan data, bahan untuk alasan konyolku. Di sisi lain aku tidak mau membuat Kayla mengubah ritual paginya merogoh laci, menemukan alasan konyolku, yang membuatnya tersenyum. Meskipun aku tidak pernah tau apakah Kayla menginginkannya, menantikannya setiap pagi. Aku hanya merasa aku akan tetap melakukannya. Semakin rumit saja kalau dipikir-pikir.

“Woi, Rel! Kesurupan lagi lo?”

Suara Ojan yang muncul tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Ia datang bersama Dodi dan yang lainnya, membawa aura kebahagiaan khas hari Jumat. Ia duduk di hadapanku, meletakkan segelas es teh di atas meja dengan suara yang sedikit keras.

“Mikirin apaan sih? Serius amat,” katanya. “Mikirin cara bayar utang di kantin?”

“Bukan,” jawabku sambil tersenyum. “Lagi mikirin rencana besar.”

“Nah! Ini yang gue suka!” seru Ojan, matanya berbinar. “Gue juga punya rencana besar malam ini. Operasi khusus.”

Aku menatapnya. “Operasi apa? Operasi plastik?”

“Bukan,” katanya serius. “Operasi begadang. Rental PS Bang Jali baru update WE baru. Kita harus jajah tempat itu malam ini. Sampai subuh kalo perlu. Kayak biasanya. Gimana, Rel?”

Rental PS Bang Jali, tempat yang menjadi bagian dari sejarah pertemanan kami. Tempat di mana kami pernah menghabiskan malam-malam terbaik kami, berteriak-teriak karena gol di menit terakhir, ditemani bau stik PS yang apek dan mi instan tengah malam.  Dodi dan yang lainnya langsung setuju, semangat mereka menyala-nyala. Mereka menatapku, menunggu persetujuanku, menunggu sang imam besar memberikan restunya. Tapi aku hanya diam.

Pikiranku melayang jauh. Malam ini aku punya rencana lain. Rencana yang tidak melibatkan stik PS. Aku berencana pergi ke pasar malam lagi, sendirian. Aku butuh data baru. Aku butuh melihatnya lagi di dunianya yang asli. Aku butuh materi untuk alasan ke-16. Rencana yang sebenarnya tiba-tiba saja muncul, aku harus kembali ke dalam dunia Kayla yang sesungguhnya, siapa tau aku menemukan sesuatu yang baru lagi, yang lebih pantas aku tuliskan sebagai alasan. 

“Gue… kayaknya enggak bisa, Jan,” kataku pelan.

Lihat selengkapnya