32 HAL TENTANG KAMU

IGN Indra
Chapter #27

SAHABAT PENGKHIANAT

Akhir-akhir ini kebahagiaan lebih sering mampir di hidupku. Rasanya aneh, perasaan yang sama saat menemukan uang di saku celana lama, jarang, tapi bikin senyum sendiri. Sangat baik. Selama beberapa minggu terakhir, duniaku yang biasanya datar dan berwarna abu-abu, tiba-tiba punya kontras yang lebih tajam. Ada hitam dan putih, ada terang dan gelap. Dan semua itu berpusat pada satu orang bernama Kayla.

Misi 32 sudah melewati setengah perjalanan. Aku sudah tidak lagi menghitungnya sebagai hukuman. Sekarang, ini lebih terasa seolah aktivitas menulis buku harian, tentangnya, yang kutulis dari sudut pandangku. Setiap hari menjadi halaman baru. Setiap observasi menghasilkan kalimat baru. Aku akhirnya menemukan kata yang tepat, buku harian, bukan lagi sebagai daftar alasan. 

Aku merasa adalah Columbus yang menjelajahi hampir separuh bumi, yang baru saja menemukan benua baru, benua baru itu bernama Kayla. Dan aku menjadi satu-satunya penduduk di sana. Aku hafal kebiasaannya yang tidak diketahui orang lain. Aku tahu kalau ia akan mengetuk-ngetukkan pulpennya ke meja saat sedang berpikir keras. Aku tahu kalau ia benci bau durian, karena suatu hari teman sebangkunya membawa permen rasa durian dan setelahnya wajah Kayla langsung menunjukkan ekspresi menghadapi hari kiamat. Aku tahu kalau ia lebih suka teh tawar hangat daripada es teh manis. Semua detail kecil itu kini tersimpan menjadi hartaku. Harta karun yang kudapatkan dari penelitian panjang, yang kadang melelahkan tapi selalu menyenangkan.

Dan ia sepertinya juga mulai menikmati permainan ini. Ia tidak pernah lagi membuang suratku. Ia menyimpannya. Terkadang, saat aku beruntung, aku bisa menangkap sekilas ekspresinya saat dirinya sedang membacanya. Kerutan bingung, tarikan napas kecil, atau—jika aku benar-benar mujur—senyuman sepersekian detik yang langsung ia sembunyikan. Momen-momen itu menjadi upahku, jauh lebih berharga dari hadiah piring cantik di minimarket.

Hari itu adalah hari Rabu. Jadwalnya adalah pelajaran tambahan Matematika Wajib sore hari. Itu artinya, aku punya alasan yang sah untuk tidak ikut nongkrong di warung. Aku tidak perlu berbohong lagi pada Ojan.

"Gue ada kelas tambahan," kataku pada Ojan saat bel pulang berbunyi.

"Matematika? Tumben lo ikut?" tanyanya, curiga.

"Gue pengen benerin masa depan gue, Jan," jawabku dengan nada bijak. "Pendidikan itu penting."

Ojan hanya menatapku dengan pandangan 'aku-tidak-percaya-tapi-aku-malas-berdebat'. "Ya udah. Awas kesurupan rumus," katanya, lalu pergi bersama yang lain menuju markas kami.

Aku tidak berbohong. Aku memang ikut kelas tambahan selama sekitar lima belas menit pertama. Setelah Pak Suryo selesai mengabsen dan mulai menulis integral lipat tiga di papan tulis, aku memutuskan bahwa masa depanku lebih baik diselamatkan dengan cara yang lain. Aku menyelinap keluar kelas dengan alasan ke toilet, lalu setelahnya aku tidak pernah kembali.

Aku tidak pulang. Aku pergi ke tempat rahasiaku yang baru, perpustakaan.

Lihat selengkapnya