Beberapa saat menjelang kedatangan Farel, Ojan memetik gitarnya dengan nada sumbang, seirama dengan suasana hatinya yang sedang kacau.
"Si Farel beneran enggak ke sini?" tanya Dodi, salah satu teman mereka.
"Enggak," jawab Ojan ketus. "Katanya kelas tambahan. Tumben-tumbenan dia peduli. "
"Sejak kapan lo jadi sinis gitu sama dia?" sahut yang lain.
Ojan meletakkan gitarnya dengan suara keras, lalu menatap satu per satu wajah teman-temannya. Ia merasa jengah, bukan pada Farel, melainkan pada keadaan yang membuatnya muak.