32 HAL TENTANG KAMU

IGN Indra
Chapter #30

ABU KEPERCAYAAN

Aku tidak ingat bagaimana aku bisa sampai di sini. Kakiku sepertinya punya kehendak sendiri, membawaku melewati koridor yang terasa memanjang tanpa ujung, menelan tatapan-tatapan kasihan dan bisikan-bisikan yang menusuk. Yang aku tahu, saat ini aku sudah berada di dalam bilik toilet paling ujung. Aku mengunci pintunya, untuk sesaat aku merasa aman.

Aku bersandar di pintu yang dingin, membiarkan rasa beku itu menembus punggungku. Dinginnya terasa nyata, menjadi satu-satunya sandaran di tengah kekacauan yang berkecamuk di kepalaku. Aku tidak ingin menangis.  Berkali-kali aku membuat janji pada diriku sendiri, air mata adalah kemewahan yang tidak akan pernah bisa kumiliki. Menangis hanya akan membuat mataku bengkak, dan aku tidak punya energi untuk menjelaskannya pada Ibu kenapa mataku bengkak.

Jadi, aku hanya bernapas. Tarik, kemudian hembuskan. Aku mencoba menjalankan protokol darurat di kepalaku. Aturan nomor satu, jangan pernah menunjukkan kelemahan. Aturan nomor dua, jangan pernah terlihat hancur. Aturan nomor tiga, kendalikan situasinya. Tapi sistemku terlanjur rusak parah. Aku tidak kuasa mengendalikan apa pun. Semuanya terlanjur terjadi.

Di tengah usahaku untuk kembali menjadi robot, tanganku bergerak tanpa perintah, gerakan refleksnya yang terbentuk selama beberapa minggu terakhir. Gerakan mencari ketenangan. Tanganku merogoh saku rok kananku, mencari amplop putih, jangkar kecilku, mencari cahaya kecil palsuku. Tapi yang kurasakan hanya kain yang kasar dan kosong.

Dan saat itulah semuanya kembali. Bagaikan film rusak yang diputar ulang dengan kecepatan penuh. Wajah Riko yang menyebalkan, kata taruhan yang berdengung, tawa Riko bersama teman-temannya. Lalu tanganku sendiri, yang dengan gerakan dramatis, merobek amplop itu dan melemparkan semua isinya ke wajah wajah Farel yang pias dan terkejut. Aku sendiri yang membuangnya. Aku sendiri yang menghancurkannya.

Lalu monolog internal datang. Suara di kepalaku yang biasanya logis dan tenang, detik ini terdengar parau dan penuh amarah.

Tanganku mencari sesuatu yang sudah tidak ada. Bodohnya aku. Tentu saja tidak bisa aku temukan karena aku sendiri yang membuangnya. Tapi kenapa rasanya seperti aku baru saja membuang satu-satunya pelampung di tengah lautan luas, di tengah badai yang hendak menelanku bulat-bulat. Aku benci diriku sendiri, karena telah percaya padanya. Dan aku lebih membencinya lagi karena aku harus mengakui, bahkan pada diriku sendiri, bahwa aku merindukan kebohongan itu. Aku merindukan perasaan bodoh saat menanti-nantikannya setiap pagi. Sungguh, aku membencinya, betapa aku sangat membutuhkan cahaya kecil itu, meski palsu. Di duniaku yang sudah begitu berat, bodohnya aku yang bersandar pada ilusi. Dan sekarang, ilusi itu hancur, aku terjatuh.

Lihat selengkapnya