Orang sering berkata kalau penyesalan selalu datang terlambat. Menurutku itu salah. Penyesalan selalu datang tepat waktu, datang setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap kali aku melakukan kebodohan. Penyesalan tidak pernah absen. Ia seperti teman sebangku yang baru, yang tidak akan pernah pergi, bahkan saat bel pulang sudah lama berdentang.
Sudah seminggu berlalu sejak insiden di kantin, seminggu yang terasa setahun penuh. Duniaku seolah terbalik. Sekolah yang tadinya menjadi taman bermain, sekarang tak ubahnya dengan lokasi kecelakaan. Dan aku adalah pengemudi ugal-ugalan yang menyebabkan semuanya terjadi.
Aku tidak pernah lagi datang pagi. Buat apa? Tak pernah ada lagi misi menyelipkan surat. Tak ada lagi ritual agen rahasia. Sakuku terasa aneh, lebih ringan, kosong. Tak ada lagi kertas kecil yang dulu rasanya sama dengan menyimpan granat yang siap meledak. Aku rindu perasaan itu. Perasaan gugup saat akan melakukan hal bodoh. Ternyata, itu lebih baik dibandingkan dengan perasaan hampa setelah hal bodoh itu menghancurkan segalanya.
Hubunganku dengan Ojan dan teman lainnya juga berubah. Mereka menjadi lebih canggung saat berada di dekatku. Ojan sudah berusaha untuk minta maaf. Kemarin, saat di warung, ia menghampiriku.
"Rel, gue... gue minta maaf," katanya, tanpa berani menatapku. "Gue enggak nyangka kalo jadi besar kayak ini."
Aku hanya menatapnya. "Udah, Jan," jawabku pelan. "Nasi udah jadi bubur."
"Tapi...."
"Dan buburnya gosong," tambahku. "Enggak bisa dimakan lagi. Udah. Lupain aja."
Aku meninggalkannya. Aku tahu ia tidak bermaksud jahat. Ia hanya bodoh sama sepertiku. Tapi aku sedang tidak punya kekuatan untuk memaafkannya. Memaafkan orang lain itu butuh energi, dan seluruh energiku sudah habis kupakai untuk membenci diriku sendiri.
Di kelas, aku menjadi hantu. Aku duduk di pojok, tanpa bicara, tidak lagi ada gairah untuk membuat onar. Aku hanya diam. Mungkin untuk pertama kalinya, para guru senang dengan keberadaanku. Farel akhirnya menjadi murid teladan. Teladan dalam hal menanggung rasa bersalah. Tapi siksaan terbesarku bukanlah keheningan dari teman-temanku. Siksaan terbesarku datang dari Kayla.