Dulu aku punya segudang nama panggilan. Si biang kerok, si tukang tidur, si raja remedial. Aku menyukai nama-nama itu, seakan-akan aku punya tameng rahasia. Orang tidak akan punya ekspektasi tinggi pada biang kerok. Orang tidak akan mengusik raja remedial. Hidupku aman di balik reputasiku yang kubangun dengan susah payah, tersembunyi dari dunia.
Sekarang, sepertinya aku punya nama baru, si hantu koridor. Sudah lebih dari dua minggu sejak ledakan di kantin. Dan selama itu, aku berubah. Aku tidak merencanakannya, terjadi begitu saja. Farel yang dulu, yang berisik, yang iseng, yang selalu punya komentar untuk segala hal, sepertinya sudah menguap, hilang. Hanya menyisakan jasad yang rutin datang ke sekolah, duduk di bangku paling pojok, lalu pulang saat bel berbunyi. Aku menjadi ahli dalam hal menjadi tidak terlihat. Aku datang tepat disaat bel akan berbunyi, dan pergi tepat saat guru meninggalkan kelas. Aku tidak lagi mampir ke kantin. Aku tidak lagi nongkrong di warung belakang. Aku hanya ada di dalam kelas, itu pun hanya fisikku.
Pikiranku ada di tempat lain mengembara di lorong-lorong penyesalan. Para guru sepertinya senang dengan perubahanku. Mereka pasti berpikir aku akhirnya mendapatkan hidayah. Suatu hari, Bu Ratih, guru Bahasa Inggris, memanggilku saat pelajaran.
"Farel," panggilnya. Seisi kelas menoleh padaku. Mereka mungkin menunggu aku akan mengeluarkan lelucon bodoh seperti biasanya.
"Iya, Bu?" jawabku pelan.
"Coba jelaskan, apa yang dimaksud dengan simple past tense?"
Dulu, aku mungkin akan menjawab, "Kalau gorengan di kantin kemarin harganya seribu, sekarang jadi dua ribu. Itu past tense buat kami Bu" Lalu seisi kelas akan tertawa.
Tapi Farel yang itu sudah tidak ada lagi.
"Tidak tahu, Bu," jawabku, datar. Lalu aku kembali menatap ke luar jendela.
Bu Ratih terdiam sejenak, kaget. Seisi kelas juga hening. Mereka mungkin lebih kaget mendengar jawabanku daripada mendengar pengumuman libur dadakan. Farel yang menyerah pada pertanyaan? Itu sebuah keanehan.
Tapi aku memang sudah menyerah pada segalanya.
Satu-satunya hal yang tidak bisa kuabaikan hanyalah keberadaannya. Kayla ada di sana, berjarak dua baris di depanku. Aku tidak lagi punya keberanian untuk menatapnya. Bahkan untuk sekadar mencuri pandang pun aku tidak sanggup. Melihatnya sekarang terasa seperti menatap matahari. Aku tahu ia ada, terang sekaligus menyakitkan. Tapi kalau aku menatapnya langsung, aku takut mataku akan buta oleh rasa bersalahku sendiri.
Jadi aku hanya mendengarkan. Aku mendengarkan suaranya saat ia menjawab pertanyaan guru. Suaranya masih terdengar sama, jelas dan percaya diri. Namun ada kalanya aku juga merasa ada yang berbeda, ada nada lelah yang terselip di sana, yang mungkin hanya bisa didengar oleh orang yang sudah melakukan penelitian mendalam tentangnya. Atau mungkin itu hanya imajinasiku. Imajinasi seorang kriminal yang merasa korbannya masih terus menderita.
Setiap kali mendengar suaranya, aku teringat pada tantangannya. "Beri aku satu alasan."
Dan setiap kali, di dalam kepalaku, aku masih tidak punya jawaban.