32 HAL TENTANG KAMU

IGN Indra
Chapter #24

SENYUMAN SAMAR

Pagi ini, Senin datang bagai kabut tebal yang menelan semangatku. Menurutku, Senin selalu jadi hari yang paling tidak seru yang pernah diciptakan. Mendengar namanya saja sudah terdengar semalas keluhan. Dan hari Senin ini terasa lebih berat dari biasanya. Alasannya ada di saku seragamku, secarik kertas berisi alasan ke-15.

Karena surat yang ini tidak sekadar surat biasa. Surat-surat sebelumnya berisi hasil penelitian. Aku melihat, aku mencatat, aku melaporkan. Aman terkendali. Tapi surat yang ini berbeda berubah menjadi pengakuan.

Aku menulis tentang rasa banggaku padanya. Kata bangga, meskipun menjadi kata yang paling berbahaya, seperti ranjau, perasaan yang seharusnya tidak kubiarkan tumbuh karena akan melanggar etika riset. Aku benar-benar tidak profesional.

Semalam mataku berkali-kali menolak untuk terpejam. Reaksi Kayla berputar-putar tiada henti di kepalaku. Bagaimana jika ia marah? Bagaimana jika ia merasa aku sedang mempermainkannya? Menulis tentang kegalakannya itu aman. Menulis tentang kebaikannya pada kucing sedikit berisiko, tapi masih dalam batas aman. Tapi bagaimana saat ia membaca tulisanku tentang rasa banggaku padanya. Sama halnya dengan meletakkan hatiku di atas nampan, lengkap dengan tulisan silakan diinjak jika berkenan.

Aku hampir saja membatalkan niatku, membuang surat itu saat perjalanan ke sekolah. Tapi aku tidak sanggup. Aku sudah menulisnya. Dan aku merasa bagai pengecut jika aku tidak berani mengirimkan sesuatu yang sudah kutulis dengan jujur. Meskipun kejujuran itu lahir dari sebuah kebohongan besar. Ternyata, hidup memang rumit.

Seperti biasa, aku tiba di kelas yang masih sepi. Aku langsung menjalankan misi dengan gerakan sehalus penari, cepat, senyap, dan penuh dengan kecemasan yang tidak perlu ada. Saat menaruh kertas itu di lacinya, aku secemas cicak yang baru saja memutuskan ekornya. Aku meninggalkan sebagian dari diriku di sana. Aku hanya bisa berharap, ekor itu tidak akan dipungut lalu dibuang ke tempat sampah.

Aku kembali ke bangkuku dan langsung menelungkupkan kepala di atas meja. Aku tidak mau melihatnya saat ia datang. Aku akan berpura-pura tidur saja, menjalankan mekanisme pertahanan terbaik di dunia. Sebab orang tidak akan mengganggu orang yang sedang tidur.

Sebenarnya aku tidak tidur. Telingaku tetap siaga, berusaha menangkap setiap detail suara. Aku mendengar suara langkah kaki, itu pasti ia yang selalu tepat waktu. Aku mendengar suara tas yang diletakkan di atas meja, kemudian suara kursi yang diseret. Ia sudah berada di singgasananya.

Aku menunggu dengan jantung yang berdebar lebih kencang dari musik di tengah pasar malam. Ini terasa lebih menegangkan daripada menunggu pengumuman nilai rapor. Kalau nilai rapor, aku sudah bisa menebak hasilnya, selalu mengecewakan. Kalau yang ini, aku tidak tahu apa-apa, aku benar-benar buta arah.

Aku mendengar suara laci dirogoh. Lalu hening sejenak. Ia pasti sudah menemukan suratnya.

Lihat selengkapnya