Kantin di jam istirahat kedua itu mirip arena perang yang baru saja usai. Riuh, penuh dengan sisa-sisa adrenalin, dan aroma kemenangan setelah bertarung melawan kebosanan mengikuti materi pelajaran. Aku menempati kursi biasa, bersama Ojan dan teman lainnya. Di hadapanku ada semangkuk bakso yang kuahnya masih mengepul. Seharusnya ini menjadi momen puncak hariku. Tapi hari ini, ada yang terasa ganjil.
Aku mencoba untuk tampil normal, membuatnya terlihat santai, terbahak saat Dodi melemparkan lelucon yang sejujurnya tidak lucu sambil meniup kuah bakso seolah itu adalah masalah terberatku saat ini. Tapi aku tidak bisa, semuanya sia-sia belaka. Firasatku tidak enak, kegelisahan mulai menggerogoti, seperti saat mengetahui datangnya ulangan dadakan, tapi bahkan mata pelajarannya belum diketahui apa.
Sejak pagi, aku seolah berjalan diikuti lampu sorot yang memata-matai gerak gerikku. Aku bisa merasakan tatapan-tatapan yang menusuk, diselingi bisikan-bisikan misterius di udara, bagaikan nyamuk yang sulit dilihat dengan jelas, tapi dengungannya tak henti mengusik telinga.
“Itu Farel, kan?”
“Iya, yang nulis surat buat Kayla…”
“Gila, niat banget…”
“Katanya sih taruhan…”
Taruhan, satu kata yang membuatku merinding. Aku mencoba menenangkan sembari meyakinkan diriku sendiri, mungkin aku hanya salah dengar. Mungkin itu hanya perasaanku saja yang sedang sensitif. Lalu Kayla masuk ke kantin bersama Siva.
Seketika atmosfernya berubah. Suara kantin yang tadinya riuh, ramai dan semrawut, serempak memiliki satu fokus, suaranya mirip ratusan radio yang tadinya memutar lagu yang berbeda-beda, kini serentak memutar satu lagu yang sama. Dan lagu itu, sayangnya adalah tentang kami.
Aku memperhatikannya. Meja di sebelah kanan kami, yang diisi oleh geng cewek paling populer, secara mendadak menghentikan obrolan mereka. Mata mereka semua tertuju pada Kayla, lalu dengan gerakan cepat, bergantian melirik ke arah mejaku. Mereka berbisik, lalu salah satu dari mereka tertawa. Tawa yang ditahan dengan kedua tangan mereka, tawa yang buatku terasa lebih kejam dari makian.
Kayla pasti merasakannya juga. Aku melihatnya berjalan lebih cepat, punggungnya semakin lurus dan kaku. Bentengnya sedang dalam mode siaga satu. Ia duduk sambil mencoba membuka kotak bekalnya, tapi aku bisa lihat gerakannya tidak senyaman biasanya.
Jantungku degupnya kian kencang. Tanganku yang sedang memegang sendok terasa dingin dan berkeringat. Kuah bakso di hadapanku tidak lagi terlihat menggoda, rasanya seperti menatap semangkuk lahar panas. Perutku melilit, aku serasa ingin muntah.
Aku melirik Ojan. Ia berusaha menghindari tatapanku, sibuk mengaduk-aduk baksonya yang sepertinya tidak ingin ia makan. Ia tidak mau menatapku. Dan saat itulah aku mulai curiga, tanpa perlu bertanya. Aku tidak perlu bukti, aku tahu. Ia pelakunya, sahabatku, orang yang tahu rahasiaku. Orang yang duduk di sebelahku saat kami menyabotase bel sekolah. Orang yang sama yang sekarang membuatku merasa seperti terpidana mati yang paling kesepian di dunia.