Percayalah, menjalankan misi itu tidaklah mudah. Apalagi kalau misinya dirancang oleh orang-orang yang baterai otaknya sudah kosong. Ojan dan teman-temanku, mereka pikir ini lucu. Farel, si biang kerok, harus jadi pujangga dadakan untuk Kayla. Kata mereka ini hukuman yang paling cocok buatku. Tapi mereka keliru. Ini sudah bukan lagi jadi hukuman, melainkan pekerjaan tetap. Dan aku, Farel Adiputra, selalu menuntaskan pekerjaanku, apapun resikonya. Meskipun pekerjaanku kadangkala berupa hal yang paling bodoh dan absurd di sistem tata surya.
Hari itu, hari Selasa. Aku sedang duduk di markas besar manusia-manusia bodoh nan konyol, yang tak lain di warung belakang sekolah. Di hadapanku ada segelas es teh yang sudah tinggal setengah, dan selembar kertas kosong yang baru saja kusobek dari buku catatanku. Kertas itu lebih suci dari catatan biologiku selama tiga tahun. Tugasku hari ini, menuliskan alasan ke-7.
Tugasku seharusnya gampang. Aku hanya perlu menulis satu kebohongan, satu ejekan yang kubungkus dengan kata-kata manis, semanis martabak berisi paku, terlihat lezat, tapi bikin tetanus. Selama enam hari terakhir, aku sudah jadi ahlinya. Aku sudah menuliskan tatapannya yang ingin memusnahkan peradaban, tentang suaranya yang mirip alarm kebakaran. Semuanya lancar. Ia membacanya, meremasnya, lalu membuangnya. Terasa sempurna, karena menjadi siklus penolakan yang indah.
Hari ini, aku sudah punya bahan yang bagus. Aku melihatnya tadi pagi saat pelajaran Kimia. Kayla begitu fokus sampai-sampai dahinya berkerut. Saat melihatnya, terbersit ide untuk menuliskanya.
Alasan ke-7: Gue suka cara lo ngerutin dahi pas liat rumus. Kayak lagi liat masa depan yang rumit. Mungkin masa depan kita.
Kedengarannya bagus, berisi sedikit pujian, ejekan halus, dengan akhir gombal picisan yang sudah pasti akan membuatnya mau muntah, sebuah rencana yang matang. Aku mengambil pulpen Pilot, bersiap menulis, tintanya sudah mau habis. Mungkin ia juga lelah bekerja, sama sepertiku.
Saat ujung pulpen kutekan ke permukaan kertas tanganku terasa kaku, tidak mau bergerak. Sungguh aneh, biasanya tangan ini cukup lincah menari kalau disuruh menulis omong kosong. Tapi hari ini, tanganku mogok kerja, tangan ini diam saja, menggantung di atas kertas, seperti ragu--ragu. Lalu, kepalaku mulai memutar kilasan film, memutar adegan-adegan yang tidak pernah aku sadari kapan aku merekamnya.
Adegan pertama berisi kejadian di belakang sekolah. Tempat terlarang dekat rumah kaca tua. Aku melihatnya di sana sendirian. Ia mengeluarkan kotak bekalnya, lalu memanggil sesuatu dengan suara lembutnya yang terdengar halus. Lalu seekor kucing kurus keluar takut-takut dari semak-semak. Dan Kayla pun tersenyum. Utas senyuman terukir di wajahnya kala yang terasa tulus. Senyuman yang sepertinya tidak pernah ia tunjukkan pada seluruh jenis spesies manusia di sekolah ini. Ia memberikan lauk terbaik miliknya hanya untuk kucing itu. Iya, aku yakin kalau aku tidak salah lihat, aku tidak melihat makanan sisa, melainkan memberikan bagian terbaiknya.
Adegan itu kemudian berhenti, aku masih saja termenung. Entah apa sebabnya pulpen di tanganku bobotnya terasa kian berat. Detik berikutnya adegan kedua diputar, tanpa jeda iklan. Kali ini adegan di koridor pagi buta. Saat itu sekolah masih sepi. Lagi-lagi aku melihatnya. Kayla rela berjongkok sendirian demi sebuah tanaman. Ia mengira tidak ada seorang pun yang melihatnya. Disaat dirinya sedang mengurusi satu tanaman paling merana di antara yang lain. Daunnya layu menguning, batangnya lunglai kurus. Tanaman yang sudah seharusnya dipesankan batu nisan. Kayla justru menuangkan pupuk cair dari botol kecil, sambil berbisik padanya. "Jangan mati, ya. Kamu pasti bisa."
Aku mengerjapkan mata, agar tidak tenggelam terlampau lama, agar jiwaku kembali ke warung. Kembali pada suara Dodi yang berusaha keras mencoba menyanyikan lagu Dewa 19 dengan kunci yang salah di kejauhan. Es teh di depanku sudah tidak lagi sedingin sebelumnya.
Apa-apaan tadi? Kenapa kepalaku malah memutar adegan-adegan itu? Semua data itu tidaklah penting. Data itu yang merusak rencanaku. Rencana awalku hanya untuk mengejeknya, semata-mata untuk membuatnya kesal. Aku tidak berencana untuk mengingat-ingat kebaikannya pada kucing dan tanaman sekarat. Aku merasa sudah melanggar prosedur pribadiku. Ini salah, sudah seharusnya aku menghapus adegan tidak berguna itu dari pikiranku.
"Woi, Rel! Bengong aja lo!" Suara Ojan sesaat kemudian membuyarkan lamunanku. Ia duduk tepat di hadapanku, dengan tangkasnya merebut gelas es teh milikku dan menenggaknya sampai habis. "Nulis apaan, sih? Surat wasiat?"