Aku tidak langsung pergi dari taman itu. Aku tetap duduk di sana, di bangku persembunyianku, meski Kayla sudah lama berlalu. Aku masih bisa mendengar suaranya yang bergetar saat menyebut kata operasi. Aku masih bisa melihat bahunya yang terkulai saat ia menangis dalam diam. Pemandangan itu, suara itu, sekarang menjadi wallpaper permanen di dalam kepalaku, sulit sekali untuk menghapusnya.
Dulu, masalah terbesarku bagaimana cara menulis 32 kebohongan untuk seorang gadis. Sekarang, masalah terbesarku, bagaimana caranya menahan langit agar tidak runtuh menimpa gadis yang sama. Tapi skalanya berbeda. Aku merasa sekecil debu, tak berdaya dan tak berarti. Menjadi penonton itu pekerjaan orang yang tidak punya dosa. Dan dosaku sudah terlalu banyak. Aku tidak bisa hanya duduk diam dan menonton. Aku harus melakukan sesuatu, apa pun caranya.
Malam itu, tidur pun menjadi hal yang mustahil buatku. Aku hanya berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang kotor. Pikiranku bekerja lebih keras daripada saat disuruh mengerjakan soal Fisika. Aku butuh cara untuk membantunya. Tapi bagaimana?
Datang langsung padanya dan memberinya uang? Tidak mungkin. Ia akan menatapku seolah aku ini serangga paling menjijikkan, lalu melemparkan uang itu kembali ke wajahku. Harga dirinya lebih tinggi dari tembok pertahanan yang ia bangun. Malahan akan menjadi penghinaan, bukan pertolongan.
Lalu, sebuah ide menyambar kepalaku. Ide yang terasa begitu brilian, begitu sederhana, begitu tepat. Aku lansung meloncat dari tempat tidur karena terlalu bersemangat. Kotak amal masjid sekolah, tentu saja. Kenapa tidak terpikir olehku dari tadi? Solusi yang sempurna, anonim, terhormat, tidak akan ada yang tahu. Aku bisa menyamar sebagai hamba Allah hanya untuk sehari, menjadi pahlawan tanpa nama. Aku suka ide itu. Kedengarannya keren.
Aku bangkit, membuka lemari bajuku, dan mengeluarkan kaleng biskuit tua, yang menjadi brankas rahasiaku. Tempatku menyimpan semua hasil jerih payahku, uang saku yang tidak kuhabiskan, uang Lebaran yang kukumpulkan selama tiga tahun terakhir, dan uang hasil menang taruhan main kartu dengan Ojan. Ironis rasanya uang hasil taruhan akan kugunakan untuk memperbaiki kerusakan akibat taruhan. Kedengarannya sungguh puitis.
Aku menghitung semuanya. Jumlah tidaklah banyak, jika dibandingkan dengan biaya operasi yang mungkin angkanya punya banyak nol. Tapi ini semua yang kupunya, yang adalah harga dari gitar listrik baru yang sudah kuimpikan. Ini adalah dana untuk petualangan-petualangan bodohku bersama Ojan. Hari ini, semua itu tidak lagi penting.
Aku memasukkan semua uang itu ke dalam selembar amplop cokelat. Aku berpikir sejenak, haruskah aku menulis sesuatu? Aku mengambil secarik kertas. Aku ingin menulis, ini untukmu, Kay. Semua akan baik-baik saja. Tapi aku menahannya. Ia mungkin akan mengenali tulisan tanganku. Terlalu berisiko.
Jadi, aku hanya menulis satu kalimat pendek dengan huruf kapital yang kaku, menjiplak tulisan tangan orang lain.
UNTUK BIAYA PENGOBATAN AYAH DARI KAYLA ADISTI - 3 IPA 2. DARI HAMBA ALLAH.
Sempurna, jelas, tepat sasaran, dan yang paling penting, anonim. Aku merasa seolah mata-mata di film-film yang sedang menjalankan misi mulia. Malam itu, akhirnya aku bisa tidur, meskipun sedikit saja. Dengan perasaan lega karena aku sudah menemukan solusinya. Masalah selesai. Semudah itu. Ternyata, aku salah.
Keesokan harinya, saat aku menjalankan misiku. Aku datang lebih pagi. Aku berjalan ke masjid sekolah yang masih lengang. Jantungku berdebar. Dulu aku deg-degan karena berniat melakukan hal iseng. Sekarang aku berdebar karena ingin melakukan hal baik. Ternyata rasanya sama saja. Sama-sama menegangkan.
Aku melihat sekeliling, aman. Tidak ada siapa-siapa. Aku mengeluarkan amplop cokelat tebal itu dari dalam tasku, lalu dengan satu gerakan cepat, aku memasukkannya ke dalam lubang di kotak amal yang terbuat dari kayu jati. Bunyinya bluk. Terdengar memuaskan.