32 HAL TENTANG KAMU

IGN Indra
Chapter #37

KISAH AYAH DAN GADIS

Kamu harus tahu, kertas kosong itu kadang-kadang lebih menyeramkan dari wajah guru BP yang memanggil namamu di tengah lapangan upacara. Sungguh, kertas kosong itu momok menakutkan, sesosok monster yang sulit dikalahkan. Ia menatapmu, diam, dan seolah berkata, "Isi aku dengan sesuatu yang berharga. Kalau tidak, kau akan gagal."

Malam itu, aku sedang berhadapan dengan monster itu. Jam di dinding kamarku sudah menunjukkan pukul sebelas. Di luar, hanya suara jangkrik yang berani bicara. Di dalam, hanya ada aku dan selembar kertas HVS putih yang tergeletak di atas meja. Di sebelahnya, brosur lomba menulis yang pernah kubuang ke tempat sampah. Dan tanpa disangka Bu Marni menyelamatkannya. Temanya adalah harapan.

Aku hampir saja menertawakannya. Harapan? Kata itu terasa seperti bahasa asing. Aku, Farel Adiputra, si biang kerok yang baru saja menghancurkan segalanya, harus menulis tentang harapan? Ini lelucon paling konyol yang pernah kudengar. Tanganku tidak bergerak. Otakku mirip mesin diesel yang kehabisan solar. Aku mencoba memejamkan mata, berharap inspirasi datang layaknya wahyu Ilahi. Tapi yang datang bukan inspirasi melainkan bayangan.

Bayangan Kayla di taman belakang sekolah. Punggungnya yang membelakangiku. Bahunya yang bergetar. Ia terisak tanpa suara. Dan aku… aku hanya bisa bersembunyi seperti pengecut, menjadi penonton dari rasa sakit yang sebagian besar karena kesalahanku. Suaranya di telepon saat menyebut kata operasi terus-menerus berputar di kepalaku. 

Aku membuka mata. Rasa bersalah itu tak lebih baik dari jaket basah di musim hujan. Rasanya berat, dingin, dan menempel di kulit. Bagaimana aku bisa menulis tentang harapan dengan jaket seberat ini di pundakku? Aku merasa tidak pantas. Pikiran itu mendatangiku lagi, menghakimi. Aku merasa tidak pantas mendapat kesempatan ini. Bakat menulis yang dibilang Bu Marni ternyata bukan bakat. Itu senjata. Dan aku sudah menggunakannya untuk melukai seseorang. Sekarang, aku diminta menggunakan senjata yang sama untuk menyembuhkannya. Rasa-rasanya tidak akan mungkin.

Aku meraih kertas HVS itu. Ujung jariku sudah siap meremasnya, mengubahnya menjadi bola penderitaan, dan melemparkannya ke dalam tempat sampah. Tempat yang paling pantas untuknya. Tempat yang juga paling pantas untukku. Aku ingin menyerah, kembali menjadi hantu, yang rasanya lebih mudah untuk dilakukan.

Tapi saat tanganku hampi meremasnya, mataku menangkap sesuatu. Sesuatu yang sebenarnya selalu ada di sana. Di atas lemari pakaianku yang tinggi. Sebuah kotak berwarna cokelat tua yang dekil dan kokoh. Kotak milik Ayah.

Aku tidak tahu kenapa aku memikirkannya saat itu. Aku pernah membukanya sekali. Mungkin akibat rasa putus asa. Mungkin aku sedang butuh pegangan, aku butuh sauh, aku harus membukanya lagi. Lalu kuputuskan untuk menyeret kursi belajarku, menaikinya, dan dengan sedikit berjinjit, aku berhasil menarik kotak itu turun. Bruk.

Awan debu tipis beterbangan. Baunya seperti waktu yang berhenti. Aku membukanya. Di dalamnya, tumpukan buku catatan tua dengan sampul kulit imitasi yang sudah pudar serta beberapa lembar foto hitam-putih. Foto Ayah waktu muda. Wajahnya yang tirus, tatapan matanya, tatapan seseorang yang terlalu banyak merasakan hidup. Benda-benda yang pernah kulihat saat merapikan kamar masih tersimpan di dalam kotak itu. 

Aku mengambil salah satu buku catatan itu, yang pernah kubaca. Tanganku gemetar saat membukanya. Aku tidak mencari ide. Aku hanya mencari sesuatu yang masih belum kutahu apa.

Lihat selengkapnya