Setelah mengirimkan cerpen itu lewat email Bu Marni, hidupku memasuki fase baru, yakni fase menunggu. Menunggu itu ada banyak levelnya. Menunggu balasan sms dari gebetan itu level satu, bikin sedikit cemas. Menunggu giliran maju presentasi di depan kelas itu level lima, bikin perut mulas. Menunggu pengumuman kelulusan itu mungkin level sepuluh, bikin mau pingsan.
Tapi menunggu hasil lomba yang nasibnya bukan hanya untuk diriku sendiri, melainkan untuk orang lain? Itu level seratus. Tidak pernah di tuliskan di dalam buku panduan. Perasaan yang sama kurasakan saat menahan napas di dalam air, tapi aku tidak pernah tahu kapan diperbolehkan untuk kembali ke permukaan, bikin sesak saja.
Aku sudah melakukan bagianku. Aku sudah memakai pisauku untuk mencoba mengupas buah. Sekarang, aku hanya bisa menunggu kabar dari juri. Orang-orang asing yang tidak kukenal, yang akan menentukan apakah buah hasil kupasanku itu cukup manis untuk mereka cicipi.
Sambil menunggu, aku kembali menjadi pengamat. Tapi sekarang, aku mengamati dengan tujuan yang berbeda. Aku tidak lagi menjadi peneliti demi informasi untuk tulisan. Aku, seorang penjaga mercusuar yang cemas, mengawasi kapal dari kejauhan, berharap kapal itu tidak tenggelam sebelum bala bantuan datang.
Dan kapal itu, kapal yang bernama Kayla, terlihat sudah hampir karam. Perubahannya tidak drastis. Tapi aku, sebagai satu-satunya Kayla-logist bersertifikat di sekolah ini, bisa melihatnya dengan jelas. Tanda-tandanya kecil, tapi nyata.
Pertama, aku melihatnya di kelas. Saat pelajaran Sejarah, Pak Tirtyasa melemparkan pertanyaan tentang keterlibatan Indonesia dalam mediasi konflik regional. Pertanyaan yang seharusnya mudah untuk Kayla. Makanan sehari-harinya. Biasanya, tangannya otomatis teracung ke udara bahkan sebelum Pak Tirtayasa selesai bertanya. Tapi hari itu, dia hanya diam. Ia duduk di bangkunya, sambil menatap lurus ke arah papan tulis, tapi aku tahu pikirannya tidak ada di sana. Tatapannya kosong.
"Kayla, mungkin mau mencoba menjawab?" tanya Pak Tirtayasa, yang mungkin merasa heran karena tidak melihat reaksi seperti biasanya.
Seluruh kelas menoleh padanya. Keheningan membungkus kelas sejenak. Kayla seperti baru saja tersadar dari lamunan panjang. Ia mengerjap beberapa kali.
"Maaf, Pak," katanya pelan. "Saya... saya kurang fokus."
Jawaban itu membuat seisi kelas terperanjat. Kayla Adisti tidak fokus. Kedengarannya sama anehnya dengan melihat Ojan yang tiba-tiba rajin mengerjakan PR. Sesuatu yang sangat salah sedang terjadi.
Aku melihat Siva di sebelahnya menatapnya dengan pandangan khawatir. Kayla hanya menggeleng pelan, seolah dirinya berkata "aku-tidak-apa-apa", nampak menyerupai kebohongan yang bisa kulihat bahkan dari barisan paling belakang.
Lalu aku melihatnya di perpustakaan. Tempat itu kerajaannya. Biasanya, ia akan duduk di sana, dikelilingi tumpukan buku tebal, membaca dengan konsentrasi penuh. Tapi sore itu, aku melihatnya dari kejauhan. Ia memang duduk di depan sebuah buku yang terbuka. Tapi selama sepuluh menit aku memperhatikannya, ia tidak membalik satu halaman pun. Ia hanya menatap kalimat-kalimat di buku itu, tanpa berniat membacanya.