Hari pengumuman itu akhirnya datang juga. Aku tahu tanggalnya dari brosur yang sekarang sudah sekusut dan selecek hatiku. Tanggal yang kulingkari dengan pulpen merah, seolah itu menjadi tanggal ujian akhir penentu kelulusan. Agaknya memang seperti itu.
Pagi itu, aku bangun dengan perasaan aneh di perutku. Rasanya seperti diisi oleh sekumpulan pembuat onar yang sedang rapat, tapi tidak menemui kata sepakat. Suaranya berisik, ricuh, dan tidak jelas maunya apa. Aku bahkan malas sarapan karena aku tidak yakin lambungku bisa menerima apa pun selain kecemasan.
Di sekolah, aku menjalani hari seperti zombi. Tubuhku duduk, mendengarkan, menulis saat disuruh menulis, tapi pikiranku tidak pernah berada di sana. Pikiranku melayang pada sebuah situs yang berisi halaman pengumuman yang belum dipublikasikan. Setiap kali ada pengumuman dari speaker di ruang guru, jantungku berhenti berdetak sejenak. Setiap kali ponselku bergetar, aku berharap itu adalah pesan dari Bu Marni.
Aku terus mengamati Kayla. Hari ini, ia terlihat lebih pucat dari biasanya. Ia lebih banyak diam, bahkan Siva pun sepertinya kesulitan untuk mengajaknya bicara. Melihatnya seperti itu membuat perutku semakin melilit. Ia menjadi alasan kenapa hari ini terasa begitu berat. Ia adalah bebanku, sekaligus satu-satunya tujuanku.
Waktu berjalan merayap. Setiap detik terasa satu jam lamanya. Aku sedang menjalani hukuman paling aneh di dunia, hukuman yang bernama menunggu. Akhirnya, bel pulang berbunyi.
Biasanya, bel pulang buatku adalah suara terindah di dunia. Tapi hari ini, menjadi sinyal dimulainya babak baru penyiksaanku. Pengumumannya akan dipublikasikan di situs lomba tepat pukul tiga sore. Masih ada waktu sekitar satu jam.
Aku tidak ingin pulang. Aku juga tidak ingin pergi ke warung. Aku menuju ke perpustakaan. Tujuanku bukan untuk membaca. Aku hanya butuh tempat yang dingin dan sunyi menantikan eksekusiku.
Aku duduk di sudut paling belakang, berpura-pura membaca buku tentang sejarah Candi Borobudur. Meskipun sebenarnya aku tidak menelan satu kata pun. Aku hanya menatap gambar stupa, tapi yang kulihat bayangan wajah Kayla.
Tepat pukul tiga kurang lima menit, seseorang menepuk bahuku.
"Sudah waktunya, Farel."
Itu Bu Marni. Beliau sepertinya tahu di mana harus mencariku. Aku hanya mengangguk pelan.
"Mau dicek sekarang?" tanyanya lagi.
Aku menggeleng. "Saya enggak berani, Bu."
Beliau tersenyum. "Kalau begitu, kita cek sama-sama. Ayo, ke ruang komputer saja."
Aku mengikuti beliau seperti anak kecil yang pasrah dituntun ke dokter gigi. Ruang komputer sepi, hanya ada kami berdua. Suara dengungan AC terdengar sangat keras.
Bu Marni duduk di depan salah satu komputer. Aku berdiri di belakangnya. Aku tidak berani duduk, kakiku terlalu lemas.
"Situsnya apa, Rel?"
Aku memberitahunya. Tanganku berkeringat dingin.