Ternyata menjadi orang jahat itu semudah membalik telapak tangan. Cukup berbuat salah, lalu minta maaf, atau bahkan berpura-pura lupa. Masalah bisa lenyap, bisa juga menguap bersama waktu. Tapi menjadi orang baik? Ternyata lebih rumit, seperti menavigasi labirin tanpa peta, yang terhampar isinya hanya aturan, prosedur dan rasa cemas yang tidak pernah diajarkan di dalam buku panduan kehidupan.
Sudah dua hari berlalu sejak aku memenangkan lomba itu. Dua hari yang terasa dua dekade. Aku menggenggam solusinya. Aku punya obatnya. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara memberikannya. Masalahnya, obat ini rasanya pahit jika diminum di depan umum. Dan aku tidak ingn Kayla menelan kepahitan lagi karena ulahku.
Aku memikirkan semua kemungkinan yang ada. Kemungkinan pertama, aku datang langsung padanya, memberikan amplop berisi uang, lalu berkata, "Ini, buat tambahan biaya." Hasilnya? Aku mungkin akan pulang dengan bekas tamparan di pipi yang terasa panas lengkap dengan harga diri yang hancur, sudah barang tentu ditolak. Lalu kemungkinan kedua, aku memasukkannya diam-diam ke dalam tasnya. Hasilnya? Ia akan panik, mengira itu uang haram, lalu melaporkannya ke guru BP. Aku akan dipanggil, diinterogasi, dan akhirnya ketahuan, sudah pasti jadi bencana.
Dan kemungkinan ketiga, aku mengirimnya lewat pos ke rumahnya. Hasilnya? Ibunya akan bertanya-tanya, dan ia akan semakin tertekan karena harus menjelaskan dari mana datangnya uang misterius itu, berakhir gagal.
Semua jalan terlihat buntu. Aku merasa punya kunci, tapi tidak ada satu pun pintu yang bisa kubuka. Aku butuh bantuan. Aku butuh seorang ahli. Seseorang yang paham seluk-beluk birokrasi dan punya akses ke jalan-jalan rahasia. Aku hanya tahu satu orang yang memenuhi kriteria itu, orang itu adalah Bu Marni.
Aku memutuskan untuk menemuinya keesokan hari di ruang guru saat jam istirahat. Beliau sibuk memeriksa tumpukan kertas ulangan sambil minum teh hangat. Aku menghampirinya dengan gugup.
"Permisi, Bu," kataku pelan.
Beliau menatapku sambil tersenyum. "Farel. Ada apa? Mau tanya soal hadiahnya, ya? Biasanya cair sekitar seminggu lagi."
"Iya, Bu. Soal itu," kataku. "Saya mau tanya sesuatu."
"Tanya saja."
"Hadiah lombanya itu... bisa ditransfer, kan, Bu?"
"Bisa, tentu saja. Nanti panitianya akan minta nomor rekeningmu."
Inilah bagian yang sulit. Aku menarik napas. "Begini, Bu. Bisa enggak... ditransfernya jangan ke rekening saya?"
Bu Marni berhenti memeriksa ulangan. Beliau menatapku dengan kening berkerut. "Maksudmu?"
"Saya... saya mau hadiah itu disumbangkan, Bu," kataku, mencoba terdengar seyakin mungkin.