Dua minggu setelah langit di atasku nyaris runtuh, keajaiban datang tanpa peringatan. Kamu tidak akan pernah tahu, Farel, bagaimana rasanya menerima telepon dari Ibu, dan kali ini suaranya tidak lagi bergetar karena cemas, akan tetapi akibat haru yang tidak terbendung. Beliau bilang, ada donasi masuk ke rekeningnya. Donasi anonim dari pihak sekolah. Jumlahnya sangat besar. Lebih dari cukup untuk membiayai operasi Ayah.
Saat itu, aku hanya bisa terduduk di lantai kamarku. Aku tidak menangis. Aku hanya menatap dinding dengan tatapan kosong, sementara perasaan lega yang begitu dahsyat, yang belum pernah kurasakan seumur hidupku, memelukku seperti sehelai selimut paling hangat di dunia. Beban yang selama ini menekan dadaku hingga sesak, terangkat begitu saja. Aku bisa bernapas lagi. Aku bersujud syukur di atas lantai yang dingin, berterima kasih pada Tuhan, pada semesta, pada malaikat tanpa nama yang telah dikirimkannya untuk keluargaku.
Aku pikir, itulah akhir dari babak kelam di hidupku. Aku bisa kembali fokus belajar. Aku bisa kembali menata duniaku yang porak-poranda. Aku bisa tersenyum lagi tanpa kepura-puraan. Dan aku melakukannya. Selama beberapa hari, aku merasa ringan. Aku bahkan bisa tertawa lepas saat Siva menceritakan lelucon payahnya di kantin. Aku merasa seperti diriku yang dulu, sebelum semuanya menjadi rumit.
Tapi aku lupa akan satu hal. Aku punya sahabat bernama Siva. Dan Siva, tidak pernah bisa membiarkan sebuah teka-teki tidak terpecahkan.
"Kay, ini aneh," katanya suatu sore saat kami berjalan pulang.
"Apanya yang aneh, Siv? Semuanya baik-baik saja," jawabku, masih terbuai dalam kelegaan.
"Justru itu!" serunya. "Semuanya terlalu baik-baik saja. Uang sebesar itu, datang tiba-tiba, tanpa nama? Sekolah kita memang bagus, tapi aku enggak pernah dengar ada program donasi sebesar ini untuk perorangan. Memang sih ini keajaiban. Tapi aku enggak percaya sama keajaiban yang enggak punya penjelasan logis."
Aku hanya tertawa. "Siv, kamu terlalu banyak nonton film detektif. Terima aja kenyataannya. Ada orang baik di dunia ini. Selesai."
Tapi Siva tidak pernah menganggapnya selesai. Ia menatapku dengan tatapan seriusnya yang langka, yang biasanya hanya ia keluarkan saat memilih warna lipstik. "Aku akan cari tahu," katanya. "Aku harus tahu siapa malaikatmu itu."
Saat itu, aku tidak menganggapnya serius. Aku pikir itu hanya rasa penasarannya sesaat. Ternyata aku salah, Siva, jika sudah punya misi, akan lebih gigih dari detektif mana pun. Dan misinya saat itu adalah membongkar misteri yang bahkan tidak kusadari keberadaannya.
Penyelidikannya dimulai dengan cara yang tidak kuduga. Kamu, Farel. Kamu menjadi tersangka utamanya.
"Kay, aku lihat Farel ngobrol serius sama Bu Marni beberapa kali," lapornya padaku beberapa hari kemudian. Kami sedang di perpustakaan, tempat yang menjadi markas investigasinya.
Aku mengerutkan kening. "Terus kenapa? Mungkin ia mau konsultasi soal nilai Bahasa Indonesianya yang selalu di ambang batas."
"Bukan!" bantah Siva cepat. "Tatapan mereka beda. Bukan kayak guru dan murid. Lebih kayak... konspirator. Dan kejadiannya setelah insiden di kantin. Setelah Farel jadi pendiam. Aku ngerasa ini ada hubungannya."
"Hubungannya apa, Siv? Ia merasa bersalah lalu mendoakanku? Yang benar aja," kataku, masih mencoba menepis teorinya yang terdengar absurd. Farel Adiputra, si pembohong, adalah malaikatku? Imajinasi Siva benar-benar sudah terlalu liar. Seperti mencoba menyatukan kutub utara dan gurun sahara.
Tapi Siva tidak pernah menyerah sedikit pun. Ia kemudian membawaku pada petunjuk berikutnya yang ia dapatkan dengan kenekatannya yang luar biasa.