Ada kedamaian baru dalam hidupku. Kedamaian yang terasa aneh sekaligus asing seperti ruang kosong setelah badai. Aku sudah tidak lagi merasa seperti penjahat. Aku juga tidak merasa seperti pahlawan. Aku hanya merasa utuh.
Menjadi donatur anonim itu ternyata menyenangkan. Tanpa piala, tanpa tepuk tangan, juga namaku tidak akan pernah disebutkan di pengeras suara saat upacara bendera. Hadiahnya jauh lebih sederhana, tidur yang lebih nyenyak di malam hari, dan pemandangan langka berupa senyuman di wajah Kayla saat di sekolah, cukup, aku tidak butuh lebih.
Aku sudah menerima peranku. Akulah penjaga mercusuar rahasianya. Tugasku hanya memastikan kapalnya tetap berlayar dari jauh, tanpa pernah kapalnya tahu bahwa aku ada. Aku sudah berdamai dengan takdir itu. Aku pikir, inilah akhir dari ceritaku. Aku akan terus menjadi pengamat, ia akan terus berjuang, dan rahasia ini akan kubawa sampai lulus. Ternyata, takdir selalu punya selera humor yang buruk. Dan ia belum selesai bermain-main denganku. Semuanya dimulai dengan Siva.
Aku mulai memperhatikan ada yang aneh dengannya. Siva, yang biasanya hanya peduli pada daftar lagu terbaru atau diskon di mal, tiba-tiba berubah menjadi seperti detektif di film-film. Ia terlihat punya misi. Dan sepertinya, aku target dari misinya.
Kejadian pertama terjadi di perpustakaan. Saat itu, aku sedang berada di sana, yang tentu saja bukan untuk membaca, melainkan untuk menikmati dinginnya AC. Lalu aku melihatnya. Siva sedang berbicara dengan Bu Marni di dekat meja peminjaman. Mereka tidak terlihat seperti murid dan guru yang sedang mengobrol biasa. Obrolan mereka terlihat serius sampai-sampai dahi Siva berkerut. Bu Marni terlihat menjelaskan sesuatu dengan sabar.
Instingku mendadak waspada. Sejak kapan Siva, yang alergi pada guru, mengobrol se-intens itu dengan Bu Marni? Mungkin ia mau minta bocoran soal ujian. Atau mungkin ia sedang melaporkan kelakuan anehku yang sering menyendiri. Aku tidak tahu. Tapi firasatku buruk.
Kejadian kedua lebih aneh lagi. Aku sedang berjalan di koridor, dan aku merasa ada yang memperhatikan. Aku menoleh, dan aku menangkap basah Siva sedang menatapku dari kejauhan. Siva tidak melemparkan tatapan benci seperti biasanya. Tatapannya saat itu sama sekali berbeda. Ada aura penasaran, menganalisis. Tatapan seseorang yang sedang mencoba menyatukan kepingan puzzle yang rumit. Saat mata kami bertemu, ia langsung buang muka. Aku bingung. Sebelumnya ia menatapku seolah aku ini penjahat. Sekarang ia menatapku seperti detektif yang sedang menginterogasi penjahat. Aku tidak tahu mana yang lebih membuatku cemas.
Aku mencoba mengabaikannya. Mungkin ia hanya sedang aneh saja. Atau bisa jadi ia sedang latihan untuk ikut audisi drama sekolah.