Ia berdiri di hadapanku, Kayla, di taman yang sama denganku. Di tempat persembunyianku. Langit sore itu berwarna jingga. Warna yang sendu, sesuai untuk akhir dunia. Duniaku, maksudnya.
Aku hanya bisa menatapnya. Otakku, yang biasanya selalu punya komentar untuk segala hal, tiba-tiba mogok kerja, aku merasa kosong. Tidak ada lelucon. Tidak ada filosofi aneh. Hanya menyisakan rasa takut yang murni dan dingin. Aku sudah siap. Aku sudah menyiapkan diriku untuk semua kemungkinan terburuk.
Skenario pertama, Kayla memakiku, mengeluarkan seluruh amarahnya yang selama ini ia pendam. Dirinya akan menyebutku pembohong, pengecut, pengganggu. Itu bagus karena aku memang pantas mendapatkannya.
Atau skenario kedua, Kayla menamparku. Telapak tangan kanannya melayang dan mendarat di pipi kiriku. Itu pun bagus karena pipiku sudah lama tidak olahraga. Hukuman fisik kadang lebih mudah diterima daripada hukuman batin.
Atau mungkin skenario ketiga, Kayla menangis. Dirinya menunjukkan betapa sakit hatinya. Ini tampaknya menjadi skenario terburuk. Aku tidak akan sanggup melihatnya. Aku lebih memillih ditampar ratusan kali daripada harus melihatnya menangis akibat ulahku.
Aku menunggunya dengan pasrah. Silakan pilih hukumanku, hakim ketua Kayla.
Tapi ia tidak melakukan satu pun dari skenario itu. Ia hanya menatapku selama beberapa saat. Memberikan tatapan yang paling rumit yang pernah kulihat. Tatapan yang tidak aku tahu namanya. Tatapan seseorang yang baru saja selesai membaca buku yang sangat tebal dan membingungkan, dan sekarang sedang mencoba memahami akhir ceritanya.
Lalu, ia melakukan sesuatu yang sama sekali di luar dugaanku. Kayla berjalan melewatiku, lalu duduk di bangku tepat di sebelahku.
Jaraknya tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Ada jarak sekitar tiga puluh sentimeter di antara kami. Jarak yang terasa seperti jurang, tapi ada jembatan yang baru mulai dibangun. Aku benar-benar bingung sekarang. Prosedur macam apa lagi yang sedang kuhadapi. Terdakwa dan hakim tidak seharusnya duduk bersebelahan saat sidang. Ini melanggar tata tertib pengadilan.
Kami hanya duduk di sana dalam diam. Keheningan ini terasa berat, penuh, seolah-olah udara di antara kami dipenuhi oleh semua kata yang pernah kutulis, semua perasaan yang pernah kurasakan, dan semua rasa sakit yang pernah ia tanggung. Aku harus mengatakan sesuatu. Aku harus memecah keheningan ini.
"Kay..." aku mengulanginya lagi, suaraku terdengar seperti suara orang lain.
Ia menoleh sedikit. Tapi sebelum aku bisa melanjutkan, ia mengangkat tangannya. Sebuah isyarat yang artinya tunggu dulu, menurut tebakanku. Setelahnya Kayla membuka ritsleting tasnya. Sementara aku kembali tegang. Ia mengeluarkan dua botol air mineral yang dingin yang masih memperlihatkan embun di dinding botolnya.
Ia membuka tutup salah satu botol, lalu meminumnya sedikit. Kemudian, ia menyodorkan botol yang satunya lagi padaku.
"Nih," katanya. Hanya itu.
Otakku benar-benar tidak bisa memproses data ini yang berupa keanehan terbesar yang pernah kualami. Raut wajahku mengkerut.
Ia sepertinya mengerti kebingunganku. "Enggak ada racunnya," katanya, datar. "Aku beli di kantin tadi."
Akhirnya, dengan gerakan yang sangat lambat, aku menerima botol itu. Ujung jari kami sempat bersentuhan selama sepersekian detik, ada percikan listrik bertegangan rendah. Aku langsung menarik tanganku. Aku meminumnya. Airnya yang terasa dingin, membasahi kerongkonganku yang kering karena panik.
Kami kembali diam, seperti dua orang yang baru saja selesai lari maraton emosi. Lalu, setelah keheningan yang terasa selama satu jam, ia akhirnya berbicara lagi. Ia menoleh padaku. Aku melihat senyum tipis di wajahnya. Senyum yang lelah, rumit, tapi juga membawa sedikit kelegaan.
"Makasih."