32 HAL TENTANG KAMU

IGN Indra
Chapter #44

MENUJU KELULUSAN

Sejak pertemuan di taman itu, hidupku tidak serta merta berubah menjadi kisah komedi romantis. Aku dan Kayla tidak mendadak berlari bersama di bawah hujan dengan kedua tangan kami yang saling menggenggam. Tidak ada pula musik manis yang tiba-tiba mengalun di udara.

Dunia tetap berjalan seperti biasanya. Hanya langkahku yang saat ini terasa berbeda, begitu pun dengan pandanganku terhadap segalanya perlahan berubah.

Hubungan kami memasuki fase yang sulit dijelaskan. Aku tidak tahu apa namanya, yang jelas kami tidak pacaran. Kami bahkan jarang bicara, walaupun kami tidak sedang bermusuhan. Kami sudah melewati fase itu. Kami hanyalah Farel dan Kayla. Dua orang yang berbagi rahasia besar, dan sekarang sedang bingung mencari cara untuk kembali bersikap normal setelahnya.

Akhirnya jadi canggung. Tetapi kecanggungan itu sehangat sweater baru yang agak gatal, tapi tetap membuatku merasa aman. Dulu, diam di dekatnya itu rasanya seperti menunggu hukuman mati. Sekarang, diam di dekatnya terasa seperti jeda yang menenangkan. Aneh memang, lebih aneh lagi aku menikmatinya tanpa protes.

Sekolah memasuki minggu-minggu terakhir. Semua orang sibuk dengan ujian akhir, tugas-tugas terakhir, dan gosip tentang siapa akan kuliah di mana. Suasananya tegang sekaligus melankolis. Momen-momen interaksi kami terjadi di sela-sela kesibukan itu. Momen-momen kecil yang dianggap sepele bagi sebagian orang, tapi bagiku, tetap saja rasanya sedang menjalani peristiwa besar. Seperti suatu hari di perpustakaan.

Aku di sana, tentu saja bukan karena tiba-tiba jatuh cinta pada buku. Aku ke sana karena di luar panas, dan di dalam dingin. Alasan yang sangat logis. Aku sedang mencoba menghafal nama-nama raja dari Kerajaan Mataram Kuno, dan kepalaku rasanya hampir meledak.

Di tengah usahaku, aku melihat Kayla duduk di meja yang agak jauh, sedang serius membaca. Tiba-tiba saja ia berdiri dan berjalan menuju salah satu rak buku yang paling tinggi. Dia berjinjit, berusaha menggapai buku di rak paling atas. Sayangnya tangan tidak mampu menggapainya. Pantang menyerah, ia mencobanya lagi, namun tetap gagal.

Farel yang dulu mungkin akan tertawa, lalu meledeknya. "Makanya, minum susu," mungkin begitu kataku.

Tapi Farel yang sekarang berbeda. Melihatnya, aku beranjak dari kursiku berjalan menghampirinya. Ia tidak menyadari kehadiranku. Aku berdiri tepat di belakangnya, mengulurkan tanganku, dan dengan mudah mengambil buku tebal yang diincarnya.

Ia kaget dan menoleh. Wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Aku bisa mencium aroma sampo dari rambutnya, segar, seperti pagi hari. Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya menyerahkan buku itu padanya dalam diam.

Ia menatapku sejenak. Tatapan matanya tidak lagi tajam. Hanya tampak bening dan jernih. Lalu ia mengambil buku itu dari tanganku.

Lihat selengkapnya