32 HAL TENTANG KAMU

IGN Indra
Chapter #46

PERTEMUAN TAK TERDUGA

Menjadi seorang penulis itu sungguh aneh. Menghabiskan waktu berbulan-bulan, kadang bertahun-tahun, sendirian di dalam sebuah ruangan. Berbicara dengan orang-orang khayalan di kepalaku. Tertawa karena lelucon yang aku ciptakan sendiri. Menangis karena penderitaan karakter yang tidak pernah benar-benar ada. Perlahan menjadi sedikit gila, secara terstruktur.

Kemudian tiba-tiba, begitu semua kegilaan itu selesai dan dibungkus dalam sampul menjadi sebuah buku, aku dipaksa duduk di stan kecil yang pengap di satu festival, tersenyum pada orang-orang sungguhan yang lalu-lalang. Aku sendiri masih kikuk menghadapi semua keanehan itu.

Aku duduk di balik tumpukan buku baruku. Buku pertamaku, judulnya 32 Alasan. Di bawahnya, tertulis namaku, Farel. Aku bukan lagi Farel si biang kerok, tapi Farel si penulis. Kedengarannya masih asing di telingaku sendiri.

Festival penulis independen kali ini ramai sekali. Penuh dengan orang-orang yang terlihat lebih cerdas dan lebih artistik dariku. Aku kembali merasa seperti menjadi anak bawang. Aku hanya duduk, tersenyum pada siapa saja yang lewat, dan sesekali menandatangani buku jika ada yang membelinya. Meskipun tak banyak, namun cukup untukku.

Aku menatap bukuku. Kisahnya bukanlah cerpen yang dulu kuikutkan lomba. Cerpen itu hanya kunci yang membukakan banyak pintu. Tapi cerita di dalam buku ini berbeda. Cerita yang lebih panjang tentang seorang anak laki-laki bodoh yang mencoba memahami seorang gadis yang rumit, dengan cara yang paling bodoh juga. Kisah tentang 32 hari yang mengubah segalanya.

Tentu saja, nama-namanya aku samarkan. Tapi ceritanya, jiwanya, masih sama. Sudah lima tahun berlalu sejak hari kelulusan SMA. Lima tahun sejak aku memberikan buku catatan kosong itu padanya.

Setelah hari itu, kami benar-benar menghilang di balik kehidupan kami masing-masing. Kami tidak sedang bertengkar atau pun saling membenci. Tapi karena hidup, ternyata, punya agendanya sendiri yang lebih sibuk dari jadwal pelajaran Kayla di masa SMA.

Aku mendengarnya diterima di universitas terbaik di negeri ini, mengambil jurusan Teknik Industri. Tentu saja ia pantas ditakdirkan untuk hal-hal besar dan terstruktur. Aku mendengar kabarnya sesekali dari Siva, yang kebetulan satu kota denganku. Katanya ia baik-baik saja. Bahkan bisa dibilang lebih dari baik-baik saja.

Sedangkan aku? Aku masuk ke jurusan Sastra Indonesia di universitas yang biasa-biasa saja. Aku tenggelam dalam duniaku yang penuh dengan kata-kata, diskusi sore, dan mi instan setiap akhir bulan.

Kami masing-masing kembali pada habitat kami. Jarak di antara kami sudah bukan lagi hanya tiga puluh sentimeter di bangku taman, melainkan ratusan kilometer dan ribuan kesibukan.

Buku catatan kosong itu tetap menjadi misteri terbesar dalam hidupku selama lima tahun terakhir ini. Apa yang ia tulis di dalamnya? Apakah dirinya benar-benar menuliskan sesuatu? Atau ia tetap membiarkannya kosong, sama halnya dengan hubungan kami setelah lulus SMA? Apa ia masih menyimpannya? Atau justru sudah membuangnya bersama kenangan-kenangan lain dari masa lalunya? Aku tidak pernah tahu karena aku tidak pernah bertanya.

"Mas, bukunya tentang apa?"

Sebuah suara membuyarkan lamunanku. Seorang gadis muda berdiri di depan stanku.

"Tentang... tentang kebodohan," jawabku sambil tersenyum. "Dan tentang bagaimana kadang-kadang, kebodohan bisa membawa kita ke tempat yang benar."

Gadis itu tampak bingung, tapi tetap saja bukuku dibelinya. Aku kembali duduk. Festival ini mulai terasa sepi. Mungkin aku akan segera berkemas.

Aku menatap kerumunan yang lalu-lalang. Di tengah keramaian, ada orang-orang yang hanya lewat seperti angin. Dan ada pula orang-orang yang, saat kau melihatnya, seluruh keramaian itu mendadak hening. Seluruh suara bising mendadak menjadi senyap.

Dan saat itulah aku melihatnya. Ia berdiri di dekat panggung utama sedang melihat jadwal acara. Ia berbeda, tapi juga sama. Rambutnya tidak lagi diikat ekor kuda. Sekarang dipotong sebahu, membuatnya terlihat lebih dewasa. Ia tidak lagi mengenakan seragam sekolah, melainkan blus sederhana berwarna putih. Tapi punggungnya masih sama, tegak. Tatapan matanya, yang sedang fokus membaca juga masih setajam dulu.

Aku benar-benar melihat Kayla. Jantungku secara tiba-tiba melakukan hal aneh yang sudah lama sekali tidak dilakukannya, berhenti berdetak selama beberapa detik, kemudian secara tiba-tiba berpacu seperti kuda balap yang liar. Ternyata ia masih ingat caranya.

Kayla ada di sini, di festival yang sama denganku. Di ruangan yang sama, setelah lima tahun. Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku memanggilnya? Haruskah aku pura-pura tidak melihatnya? Haruskah aku bersembunyi di bawah meja? Pilihan terakhir terdengar paling menarik.

Tapi aku tidak melakukan apa-apa, hanya diam, kembali menjadi pengamat, peran lamaku. Aku melihatnya selesai membaca jadwal, lalu ia mulai berjalan. Berjalan dengan langkah santai, melihat-lihat dari satu stan ke stan yang lain. Ia semakin dekat menuju ke arahku membuatku refleks menahan napas.

Lalu ia berhenti tepat di depan stan yang ada di seberang stanku. Aku bisa melihatnya dengan jelas dirinya yang sedang melihat-lihat buku. Tapi kemudian, tatapannya terangkat.  Ke arah spanduk di atasku.

Aku melihat matanya menyipit, mencoba membaca tulisannya dari kejauhan.


Lihat selengkapnya