Farel, aku masih menyimpan buku catatan cokelat itu. Buku itu masih tersimpan di laci paling bawah mejaku, terjepit di antara tumpukan buku-buku referensi teknik industri dan laporan audit tahunan. Buku itu menjadi satu-satunya anomali di duniaku yang kini penuh angka, tenggat waktu dan kepastian logis. Sebuah benda kecil yang sampulnya polos, tapi isinya menyimpan keheningan semesta selama lima tahun.
Lima tahun, Farel. Selama itu, tidak ada satu kata pun yang kutulis di dalamnya. Saat pertama kali kamu memberikannya padaku di hari kelulusan yang riuh itu, aku hampir menulis sesuatu. Aku ingin menulis tentang rasa terima kasihku, tentang donasi itu, tentang betapa bingungnya aku padamu. Tapi aku sadar, cerita kita bukanlah sesuatu yang bisa kutulis sendiri. Saat itu aku sempat berpikir ingin menuliskannya bersamamu.
Sampai ketika keinginan itu tertunda, jadi, aku membiarkannya kosong, sementara aku tenggelam dalam duniaku yang baru. Dunia perkuliahan yang sibuk, lalu kemudian setelah lulus, dunia kerja yang menuntut. Aku membangun kembali tembok pertahananku dengan dinding profesionalisme dan kesibukan.
Aku akhirnya aku hanya bisa meyakinkan diriku kalau kisah kita memang semestinya selesai di sana. Menjadi kenangan yang indah di dalam buku sejarah kenangan masa SMA-ku.
Hingga kemudian Sabtu ini. Di Festival buku itu, yang bising, panas dan penuh sesak. Aku tahu itu bukan tempat idealku menghabiskan akhir pekan. Jika bukan karena Siva yang merengek minta ditemani berburu novel diskonan, aku pasti sudah di apartemen, tidur atau menyelesaikan laporan untuk Senin pagi.
“Kay, bentar ya, aku mau ke stan fiksi remaja di ujung sana,” kata Siva, lalu menghilang ditelan kerumunan sebelum aku sempat protes.
Aku menghela napas. Bagus, sekarang aku sendirian di tengah lautan manusia yang antusias pada hal-hal yang tak kupahami.Aku berjalan tanpa tujuan, menghindari orang-orang yang sibuk berswafoto. Mataku menyapu deretan stan secara acak. Kebanyakan judulnya terlalu puitis atau terlalu dramatis. Langit Kedua, Langit Yang Terluka, Cinta di Ujung Senja… Aku memutar bola mata, klise. Lalu, mataku menangkap spanduk itu. Sederhana, putih polos dengan tulisan hitam tebal.
32 ALASAN
Dahiku berkerut. Judulnya terdengar seperti artikel majalah remaja murahan atau listicle di internet. Lalu aku membaca nama di bawahnya yang kecil, begitu sulit terbaca.
Oleh: Farel.
Langkahku terhenti. Farel? Farel yang itu? Tidak mungkin. Farel yang kutahu tidak punya ketahanan mental untuk duduk diam menulis bahkan satu bab, apalagi satu buku. Farel yang kutahu lebih mungkin menjadi komika gagal daripada penulis. Tapi rasa penasaran yang merupakan sifat burukku yang paling awet, menggerakkan kakiku mendekat.
Di balik meja stan yang berantakan, ada seseorang yang sedang menunduk di kolong meja yang sepertinya sedang bersembunyi atau mencari sesuatu. Aku mengambil satu buku sampel. Sampulnya oranye norak, aku membuka halaman pertama. Halaman persembahan.
Untuk alasan yang tidak pernah tertulis, tapi selalu terasa. Kamu tahu siapa kamu.