4 : 4

mahes.varaa
Chapter #2

PERPISAHAN SELAMANYA PART 1

05 Juni 2014

Dua minggu telah berlalu sejak hari kelam itu. Hari-hari tanpa Mary terasa sama saja—sunyi, berat, dan penuh kecemasan. Sejak kecelakaan mengerikan di pesta perayaan untuk Shin, kebahagiaan yang sempat mereka rasakan seolah direnggut dalam sekejap. Sore yang seharusnya dipenuhi tawa berubah menjadi awal mimpi buruk bagi Reiner, Glen, Shin, Leo, dan Feno. 

Selama dua minggu itu, mereka hidup dengan menggenggam harapan yang rapuh. Setiap hari, mereka menunggu keajaiban—menunggu Mary membuka matanya, menyapa mereka dengan senyum hangat seperti biasa, lalu kembali menjadi bagian dari hidup mereka. Namun empat hari telah berlalu, dan tak ada perubahan berarti. Setelah menjalani serangkaian operasi besar, Mary masih terbaring dalam tidur panjangnya, terkurung dalam kesunyian yang tak bisa mereka tembus. 

Shin hanya bisa tinggal selama satu minggu. Ia harus kembali ke Antarlina untuk mempersiapkan syuting film pertamanya sebagai pemeran utama. Awalnya, pria yang biasanya tak pernah kehabisan kata itu menolak pergi. Ia ingin tetap tinggal di Prema, duduk di samping ranjang Mary, menunggu sadar. Namun setelah dibujuk oleh Glen dan Leo, Shin akhirnya mengalah. Sebagai gantinya, setiap pagi dan malam, ia selalu menelepon salah satu dari mereka, menanyakan kabar Mary—seolah dengan begitu ia masih tetap dekat dengannya. 

Sementara itu, Ferno bersama Reiner, Glen, dan Leo bergantian menjaga Mary. Meski pekerjaan mereka masing-masing tak bisa ditinggalkan begitu saja, mereka selalu menyisihkan waktu untuk datang ke rumah sakit. Bagi mereka, Mary bukan hanya seorang sahabat. Ia sudah menjadi keluarga. 

“Gimana Mary?” tanya Reiner pelan pada Leo. 

Malam itu, Reiner mendapat giliran berjaga. Leo baru saja menyelesaikan shiftnya, sementara Ferno telah pulang lebih dulu untuk beristirahat. Kini hanya mereka berdua yang berada di kamar rawat Mary. 

“Tadi dokter melakukan pemeriksaan lagi,” jawab Leo dengan suara rendah. Pandangannya tertuju pada tubuh Mary yang terbaring lemah di atas ranjang, dipenuhi alat-alat medis—selang infus, alat bantu napas, dan monitor detak jantung yang berbunyi lirih secara teratur. Leo menghela napas panjang. Untuk kedua kalinya dalam hidupnya, ia merasa tak berdaya karena harus melihat Mary dalam kondisi seperti ini. “Kamu tahu sendiri keadaannya, Rei …” 

Reiner duduk di kursi di sisi lain ranjang. Ia menatap wajah Mary yang tampak damai seolah hanya sedang tidur biasa. Dalam hatinya, ia ingin berteriak memanggil namanya, berharap suara itu mampu menarik Mary kembali. Namun berkali-kali ia mencoba berbicara pada gadis itu, hasilnya selalu sama—tak ada jawaban. 

“A-aku tahu,” jawabnya lirih. Suaranya terdengar getir. 

Pikirannya melayang ke dua minggu lalu, tepat setelah operasi pertama Mary. Ia masih ingat jelas kata-kata dokter hari itu. 

“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin,” ujar dokter dengan nada penuh kehati-hatian. “Namun pasien memiliki riwayat cedera di kepala. Luka lama itu memang sudah lama terjadi, tetapi meninggalkan bekas. Otaknya berada dalam kondisi rapuh. Satu benturan saja bisa sangat berbahaya.” 

“Lalu bagaimana keadaannya sekarang, Dok?” tanya Leo saat itu. Rumah sakit ini adalah tempat ia magang, dan berkat hubungan itu, Mary bisa mendapatkan penanganan sebaik mungkin. 

“Pasien masih dalam kondisi koma,” jawab dokter sambil menepuk bahu Leo. “Kita hanya bisa berharap dan berdoa agar dia segera sadar.” 

Saat itu, mereka semua percaya Mary akan segera bangun. Di masa lalu, gadis itu pernah mengalami koma dan berhasil kembali. Mereka yakin keajaiban yang sama akan terjadi lagi. Namun kini, dua minggu telah berlalu, dan Mary masih terdiam. 

Reiner meraih tangan Mary, menggenggamnya erat, seolah ingin menyalurkan hangat tubuhnya ke dalam genggaman itu. 

“Mary kita …” bisiknya. “Perempuan yang kuat. Dia pasti akan bangun dan kembali bersama kita.” 

Leo mengangguk pelan. Ia ikut menggenggam tangan Mary yang lain.

“Ya,” katanya lirih. “Mary kita kuat. Dia pasti akan bangun … seperti sebelumnya.” 

***


Hari demi hari berlalu tanpa perubahan berarti. Namun tak satupun dari mereka benar-benar melepaskan harapan. Reiner, Glen, Shin, Leo, dan Ferno terus percaya bahwa suatu hari Mary akan membuka mata dan kembali ke sisi mereka. Di sela-sela rutinitas masing-masing—bekerja, pulang-pergi ke rumah sakit, dan bergantian berjaga—mereka menjalani hidup dengan satu keyakinan yang sama: Mary akan kembali. 

Lihat selengkapnya