Perawat menyerahkan sebuah dokumen pada Ferno. “Pasien Mary terdaftar sebagai pendonor organ. Apakah Bapak mengetahuinya?”
Ferno terdiam sejenak. Leo menoleh padanya dengan wajah terkejut.
“Sa-saya tahu, Dok,” jawab Ferno akhirnya.
“Karena pasien telah dinyatakan mati otak,” lanjut dokter dengan suara tenang namun berat, “kami memiliki waktu yang sangat terbatas untuk menyelamatkan beberapa organ yang masih dapat digunakan. Kami membutuhkan persetujuan Bapak sebagai wali untuk melakukan pengambilan organ.”
Ferno menelan ludah. Dadanya terasa sesak.
“Be-berapa lama waktu yang saya punya … untuk memutuskan?” tanyanya dengan suara bergetar.
“Tidak lama,” jawab dokter jujur. “Semakin cepat keputusan diambil, semakin baik kondisi organ-organ tersebut.”
“Saya … mengerti,” ujar Ferno lirih. Ia berdiri dengan langkah yang terasa ringan sekaligus berat. “Te-terima kasih banyak, Dok.”
“Ferno!” panggil Leo dan segera menyusul ke kamar rawat Mary.
Begitu masuk, Ferno langsung duduk di sisi ranjang Mary. Ia menggenggam tangan kakaknya erat-erat, seolah takut kehilangan sentuhan itu. Bahunya bergetar, dan tangisnya pecah tanpa bisa ia tahan.
Shin, yang sejak tadi menunggu di dalam kamar, segera menoleh dengan wajah cemas. “Kenapa kamu nangis?” tanyanya. “Apa yang dokter bilang?”
“Ferno!” Leo menyusul. Suaranya terdengar tegang. “Kapan Mary mendaftar sebagai pendonor organ?”
Shin semakin bingung. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Leo. “Ada apa ini?” desaknya. “Apa yang dokter bilang, Leo?”
“Tunggu, Shin,” ujar Leo cepat. “Aku mau bicara dulu dengan Ferno.”
“Enggak bisa!” suara Shin meninggi. “Apa yang dokter bilang? Kenapa kamu sebut Mary sebagai pendonor?”
Leo menghela napas panjang, lalu berjalan ke sofa, dan duduk di sana. Ia tahu Shin tidak akan berhenti bertanya sebelum mendapat jawaban. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia bicara.
“Dokter bilang …” ucapnya pelan, seakan setiap kata terasa berat di lidahnya. “Mary mengalami mati otak.”
Shin mengernyit. Wajahnya jelas menunjukkan kebingungan. “Maksudnya apa?”
Dengan suara yang nyaris pecah, Leo mengulanginya. “Mary kita … tidak akan pernah bangun lagi.”
Shin membeku di tempatnya.
“Kak Mary …” suara Ferno lirih, hampir tak terdengar, namun terasa seperti pukulan terakhir. “Tidak akan pernah bangun dan kembali bersama kita.”
Pada detik itu, bukan hanya Shin yang terkejut.
Pintu kamar rawat Mary yang semula tertutup mendadak terbuka. Reiner dan Glen berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat dan mata membesar. Di tangan Reiner, kotak kue ulang tahun yang masih utuh terlepas begitu saja dan jatuh ke lantai. Bunyi benda itu menghantam ubin terdengar jelas, menandai keterkejutan yang pernah ia bayangkan sebelumnya.